Skip to content
jejak
jejak

pejalan kaki

  • Home
  • Blog
  • Contact Us
jejak

pejalan kaki

Pendakian Gunung Sindoro, Menikmati Sunrise di Gunung #2

Apriel Mendrofa, September 25, 2020

Artikel sebelumnya: Pendakian Gunung Sindoro, Pertama Kali Naik Gunung diatas 3000 mdpl #1

Negri di Atas Awan

Dari pos 2 menuju pos 3 trek mulai berat, jalur yang curam dengan batu batu besar serta berdampingan dengan jurang yang membuat harus berhati hati untuk melangkah apalagi jika papasan dengan pendaki turun. Jalur sudah mulai terbuka karna vegetasi yang jarang dan bahkan tidak ada pepohonan sama sekali dan di jalur ini kami bisa melihat gunung Sumbing dengan jelas, sesekali kabut datang kemudian menghilang. 

Dan tepat pada pukul setengah lima sore kami menginjakkan kaki di pos 3 disambut dengan udara yang dingin. Disini kami mendapat tempat yang nyaman dan luas untuk mendirikan tenda, semakin sore udara semakin dingin tapi di depan mata disuguhkan dengan lautan awan dari gunung Sumbing, indah sekali. 

Selain di pos 3 tempat mendirikan tenda lainnya ada di Sunrise camp yang merupakan batas camp terakhir, sekitar 30 menit dari pos 3 dan berada di ketinggian 2.424 mdpl. Di sunrise camp ini memiliki lokasi yang cukup luas untuk menampung puluhan tenda pendaki, serta berada di area terbuka sehingga pemandangan yang disajikan di lokasi ini cukup indah. Sesuai dengan namanya, pemandangan kala matahari terbit jelas terlihat diantara hamparan pegunungan.

Baca juga: Liburan Keluarga Seru di Pantai Popoh Tulungagung

Pripare ke Watu Tatah

Musim kemarau akan membuat suhu digunung menjadi lebih dingin dibanding dengan musim hujan, dalam hati selalu penasaran, kok bisa begitu ya? Dan malam itu gue harus memakai jacket double serta baju double supaya bisa memberi kehangatan buat hati yang dingin ini haha. Tapi yang terjadi kemudian adalah : gue terbangun, merasa gerah dan kesulitan untuk bernapas, awalnya sempat berpikir kalau oksigen dalam tenda yang menipis karna harus berbagi dengan teman tapi setelah gue membuka jacket maka keadaan menjadi normal kembali, sangat bersyukur sekali.

Tidak lama berselang kami semua harus bangun untuk persiapan summit. Ada beberapa orang yang tinggal di tenda karna ingin meneruskan tidurnya sekalian menjaga tenda. Sering mendengar kabar kalau para pendaki di Sindoro ini acapkali mendapat gangguan dari sosok yang bernama BAGAS atau babi ganas. Makhluk yang mencari makan di tenda pendaki dengan merusak tenda pada malam hari. Dan bersyukur sepanjang malam itu kami aman dari si Bagas.

Berdoa dan melakukan pemanasan adalah hal yang wajib dilakukan sebelum mendaki termasuk summit. Tapi sebelumnya perlengkapan yang dibawa summit dimasukkan dulu ke dalam tas/daypack. Untuk gue sendiri barang wajib nya adalah: air minum 1.5 lt dibagi dalam dua botol kecil, cemilan, obat pribadi dan P3K, jas hujan plastik, tabung oksigen kecil, pisau lipat dan handphone untuk dokumentasi. Fyi gunung Sindoro ini tidak mempunyai sumber air. Jadi harap membawa air secukupnya dari basecamp supaya tidak mengalami kekurangan air. Dan warung terakhir di gunung ini ada di pos 3.

Baca juga: Ke Jember ? Jangan Lupa Kunjungi Pantai Papuma

Menikmati Sunrise Di Batu Tatah

Ini adalah pendakian pertama gue di gunung yang mempunyai ketinggian diatas 3000-an Mdpl. Sudah pasti excited dan sedikit cemas karna belum yakin dengan diri sendiri. Tapi keraguan itu harus ditepis dengan semangat dan keyakinan bahwa gue PASTI BISA. Untuk summit subuh itu sendiri butuh effort yang extra walaupun tidak membawa carrier besar. Tapi harus bertahan dengan suhu yang dingin, oksigen yang menipis dan trek yang terjal.

Nah kan sudah tau naik gunung itu tidak enak tapi kok gak ada kapoknya? Haha. Ditemani headlamp yang terpasang di kepala. Suara langkah kaki para pendaki memecah keheningan subuh itu. Langkah yang berat karna trek berbatu tapi tekad dan semangat membuat kaki terus melangkah. Selain puncak, target saat itu harus sampai di pos 4 atau batu tatah untuk menikmati sunrise. Dan Puji Tuhan kami berada di batu tatah sebelum sang surya hadir menyapa bumi.

Watu Tatah adalah sekumpulan batu bersusun tinggi, yang entah tersusun secara alami atau merupakan hasil kreasi manusia. Tapi apapun itu watu tatah sangat bagus dijadikan sebagai tempat berfoto. Pendaki bisa menaiki batu ini dan gunung Sumbing menjadi latar yang indah. Batu Tatah ini juga merupakan pos 4, pos terakhir sebelum puncak.

Next Page 1 2 3

View post on imgur.com
Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Sindoro

Post navigation

Previous post
Next post

Related Posts

Apa itu Kereta Api Panoramic? Berikut Penjelasan Lengkapnya

June 13, 2023

Penjelasan Lengkap Kereta Panoramic: Banyak yang bertanya apa itu Kereta Panoramic?, Kereta Panoramic adalah Kereta Api baru dari KAI yang dilengkapi dengan jendela kaca besar di kedua sisinya, dan atap kaca yang panjang dari depan hingga belakang. Khusus diperuntukan bagi pelanggan KAI yang ingin menikmati perjalanan berbeda dengan view luas…

Read More
Catatan Perjalanan

Pesona Dlingo Bantul Yogyakarta

October 19, 2018

Pesona Dlingo Bantul Yogyakarta tidak ada matinya. Dlingo Bantul Yogyakarta adalah sebuah kabupaten yang masuk dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan tempat favorit wisatawan selain kota Yogya. Selalu ada saja tempat wisata yang dibuka di daerah Bantul ini terutama wisata alam. Hal ini secara tidak langsung bisa meningkatkan perekonomian warga…

Read More
Catatan Perjalanan

Pendakian Gunung Sindoro, Pertama Mendaki Diatas 3000 Mdpl #1

September 24, 2020

Gunung Sindoro yang juga dikenal dengan Sindara atau Sundoro merupakan gunung volcano aktif yang terletak diantara wilayah Wonosobo dan Temanggung Jawa Tengah. Dengan ketinggian 3.153 meter diatas permukaan laut, Pendakian Gunung Sindoro memiliki 4 jalur pendakian : jalur pendakian via Kledung, jalur pendakian via Sikatok (Desa Sigedang, Tambi), jalur pendakian…

Read More

Recent Posts

  • Atap Lombok: Menyelami Deretan Kesulitan Mendaki Gunung Rinjani
  • Panduan Memilih Motor Terbaik untuk Menaklukkan Keindahan Gunung Bromo
  • Como 1907: Dari Kebangkrutan hingga Menjadi Sorotan Sepak Bola Dunia
  • Menguak Legenda Nyi Roro Kidul: Sang Penguasa Mistis Samudra Hindia
  • Rahasia Kuliner Nusantara: Perbedaan Pecel Madiun, Blitar, dan Tulungagung

Categories

  • Backpacker
  • Blog
  • Catatan Perjalanan
  • Jejak Kaki
  • Jejak Kuliner
  • Jejak Luar Negri
  • Kereta Api
  • Kuliner Dalam Negri
  • Kuliner Hits
  • Kuliner Luar Negri
  • Pecinta Alam
  • Pendaki Gunung
  • Penikmat Senja
  • Piknik Estetik
  • Salam Lestari
  • Tempat Ngopi
  • Tips
  • Vitaminsea
  • Wisata Alam
  • Wisata Hits
  • Wisata Keluarga
  • Wisata Sejarah

About us

  • Home
  • Contact Us
  • Disclosure Policy
  • Sitemap

blog borobudur bromo bukitteletubies Cerita Reyog Ponorogo dieng Gunung Lembu Gunung Putri Tidur Gunung Rinjani Gunung Semeru jawa timur Kalimantan Selatan Kawah Jonggring Saloko Kota Bandung kota batu Kota Malang kotamalang Kota Rantau Kota Tulungagung kuliner malang Malam satu Suro mendaki gunung Pantai di Jawa Timur Pantai Di Malang Pantai Jatim pantai papuma Pantai Pasir Putih Tulungagung Pantai selatan pasirberbisik pasir putih patak banteng Pendakian Gunung Lawu Pesarean Gunung Kawi prambanan Pulau Bali pulau seribu Ranu Kumbolo Stasiun Kota Baru Malang Sungai Brantas sunrise travel wisata candi Wisata Goa di Jatim Wisata telaga sarangan yogyakarta

©2026 jejak | WordPress Theme by SuperbThemes