Jejak Kaki

Pembelajaran dari Proyek Pengeboran Batu Bara di Kota Rantau Kalimantan Selatan

Ikon Kalimantan Selatan

Pertengahan tahun 2012 sekitaran bulan Juli-Agustus pekerjaan proyek pengeboran yang aku tangani masih di seputaran Kalimantan Timur (Samarinda/Tenggarong) dan Kalimantan Selatan (Kota Rantau), setelah penutupan Proyek di Kaltim dan melalui perjalanan panjang dari kota Samarinda ke Kota Rantau, tibalah di kehidupan proyek baru. Dimana tempat, daerah dan Masyarakat serta budayanya berbeda. Dari perbedaan-perbedaan itulah kita dapat mempelajari dan saling menghargai perbedaan serta menyadarkan kita tentang pentingnya persatuan, karena kita di Nusantara berpegang teguh pada Bhineka Tunggal Ika.

Sesuai pepatah lama, lain ladang lain belalang, lain daerah lain juga orang, suku, adat, kebiasaan dan budayanya. Begitu juga di Kalimantan Selatan ini, semua yang aku jumpai di daerah baru ini berbeda dengan yang aku jumpuai di Kaltim, proyek pertamaku dulu dan berikut kisah pengalamanku selama tinggal di Rantau, Kalimantan selatan.

Menghargai Penguasa Lokal

Dapat Pinjaman Motor dari Masyarakat 😀

Selama bekerja di pengeboran batu bara ini aku belum pernah mencari lokasi mess sendiri, karena pembukaan proyek ketika mencari mess sepenuhnya dibantu dan dipersiapkan temenku yang bernama Edi, karena dia sebelumnya sudah berada lebih dahulu di Kota Rantau tapi bertempat tinggal di Desa Seberang yakni daerah Tambarangan. Alhasil setelah tiba dari perjalanan panjang kaltim – kalsel aku langsung menuju mess dan beristirahat sambil menunggu kedatangan mesin-mesin bor dari workshop kaltim. Disaat tidak ada pekerjaan itulah kami yang berada di mess hanya mempersiapkan dan membersihkan mess, serta ngobrol-ngobrol santai di halaman mess Pada saat ngobrol-ngobrol santai itulah tiba-tiba ada motor yang melaju cukup kencang dan pengendaranya melihat ke arah mess, tapi aku tidak menghiraukan karena hal ini biasa terjadi di jalan-jalan desa Kalimantan. Saat di halaman mess itu aku sedang duduk-duduk sambil mainan HP bersama sebut saja Jo, orang asli batak. Dan kira-kira lima menit kemudian motor yang melaju kencang tadi kembali lagi dan menghentikan laju motornya di depan Mess.

Setelah memarkir motornya di depan mess, pria berambut gondrong dengan memakai jaket kulit hitam dan bersepatu hitam ini menghampiri kami berdua yang sedang duduk bersantai di halaman mess, orang ini membuka pembicaraan dengan bahasa lokal atau bahasa Banjar. Saat itu aku langsung meletakan HP dan memperhatikan dia berbicara meskipun tidak mengerti, karena menurutku ketika ada tamu dan dia mengajak ngobrol meskipun kita tidak paham apa yang dibicarakan setidaknya kita harus memperhatikan dan tersenyum sebegai rasa hormat kepada si tamu. Ketika tamu ini ngobrol aku hanya mengangguk-angguk saja sambil tersenyum karena tidak mengerti bahasanya, akan tetapi temanku yang dari batak ini tidak memperhatikan mulai dari dia datang memarkir motor sampai mengajak ngobrol, bahkan dia lebih asik bermain HP. Kira-kira hampir dua menit dia bericara tapi aku tidak mengerti, aku hanya berkata “iya” dan “maksudnya apa ya?” ketika itu dia mengulang-ulang perkataanya tp aku tetep tidak nyambung dan mengerti karena tidak paham bahasanya, saat mengulang-ulang perkataanya itu dari raut wajahnya dia agak sedikit kesal, tapi aku tetap tersenyum dan tetap memperhatikan pembicaraannya. Sesekali orang ini melihat teman disebelahku yang asyik bermain hp sambil menunjukan wajah kesal, tiba-tiba dia seperti membenarkan benda dipunggungnya, saat itu juga ada temanku lagi sebut saja “Fad” yang menjadi crew tiba-tiba keluar dan menanggapi obrolan orang itu dengan berbicara bahasa banjar. Ternyata teman ku Fad yang dari Kaltim Samarinda ini semenjak orang tersebut datang sudah memperhatikan gerak-gerik orang tersebut dari balik jendela ruang tamu. Dalam hatiku aku langsung tenang karena ada yang bisa bahasa lokal dan mengajak ngobrol orang tersebut, dan aku hanya melihat, tersenyum dan mengangguk-angguk gak jelas.

Saat Fad ngobrol dangan orang tersebut dan Fad bertanya kepadaku “kemana Pak Widi (Kepala Proyek) rud?” dan aku menjawab “tadi keluar menemui Client di Site” setelah itu Fad berbicara lagi dengan orang itu dan orang itu mengangguk-angguk sambil menjawab dengan bahasa banjar. Setelah hampir dua menit mengobrol, orang itu pamitan pulang, dan aku pun dipamiti pulang kecuali temanku yang asik bermain HP. Dan aku pun langsung bediri dan mengucapkan “iya pak” sambil mengangguk.

Setelah orang berjaket kulit hitam itu pergi dengan motornya meninggalkan mess, temanku Fad yang mengerti bahasa lokal atau banjar tadi menjelaskan, bahwa orang tadi itu adalah penguasa sini atau istilahnya preman sini, dia kesini mau bertemu kepala proyek dan ingin bertanya kenapa tidak ada pemberitahuan ke dia kalau ada aktivitas perusahaan disini, Fad menjawab jika disini belum ada aktivitas pekerjaan karena baru datang dari Kaltim, terus pria itu kembali berkata “jika ada aktivitas harus ada biaya keamanan desa”. Dan Fad juga menjelaskan bahwa orang tadi bertanya “ini siapa yang tidak mengerti bahasa banjar, dari mana asalnya?” dan temanku megatakan “dia orang jawa dan yang mengurusi keuangan mess”, orang itu bertanya lagi “ini siapa yang main hp tidak punya tatakrama, kalau g ada kamu sudah kutusuk ini orang” Fad menjelaskan “maaf kan orang ini pak, orang ini tidak paham, sifatnya emang begitu dan tidak mengerti bahasa banjar”. Fad juga menjelaskan saat dia buru-buru keluar ketika orang tadi mau mengeluarkan badik dari balik punggungnya, karena saat yang diajak ngobrol tidak nyambung dia kesal, apalagi dengan orang yang bermain hp, dia ingin menusuknya dengan badik sebagai peringatan, tapi untungnya Fad cepat-cepat meminta maaf dan menjelaskan bahwa dua orang yang bapak ajak ngobrol ini sama sekali tidak mengerti bahasa lokal. Dan saat itu juga Fad langsung menegur Jo, “Jo klo ada orang yang mengajak ngobrol itu diperhatikan, untung tadi aku lansung cepet-cepet keluar” tapi dasar Jo, dibilangin gitu bengong dan mainin HP lagi.

Dari penjelasan temanku inilah aku baru kaget, jika orang tadi seorang Penguasa Desa sini atau bahasa gaulnya kepala preman yang ingin meminta “uang keamanan” atau “jatah preman”. Dan aku sempat sedikit shock juga jika preman tadi ingin menusuk Jo, gara-gara dicuekin saat dia ngobrol. Dari adegan itu lah aku mengambil pelajaran meskipun ada orang atau tamu bagaimanapun dan sesibuk apapun kita harus menemuinya, dan bagaimanapun bahasanya jika kita tidak mengerti cukup tersenyum dan mengangguk saja sebagai rasa penghormatan. Setelah kejadian tersebut dan sepengetahuan Foreman (Kepala lapangan) akhirnya setiap bulan aku membayar sekian ratus ribu untuk membayar biaya keamanan demi kelancaran Proyek di Lapangan, karena hal ini sudah biasa terjadi. Tapi tetep saja aku sedikit tersenyum sinis akan praktek-praktek seperti ini, dan hanya bisa geleng-geleng kepala, karena jika tidak di penuhi permintaanya maka dikhawatirkan si preman ini akan berbuat radikal, hehehee.. karena mess jauh dari kota dan Kantor Polisi, maka terpaksa harus memenuhi permintaan ini.

Bergaul denga Warga Lokal dan Memanfaatkan Kreasi Lokal

Jalan Masuk Pasar Keraton Kota Rantau

Biasanya kebiasaanku selama dilapangan adalah membelanjakan kebutuhan proyek, baik kebutuhan kantor, mesin, spareparts, dan kebutuhan makan karyawan di mess. Hal ini biasa ku lakukan setiap minggu sebanyak 2-3 kali, tergantung kebutuhan di Mess, dan untuk membelanjakan kebutuhan mess ini aku selalu pergi ke Kota terdekat, ke Pasar, toko-toko spareparts dan toko-toko perlengkapan kantor. Karena dalam seminggu kurang lebih 2 sampai 3 kali belanja, dan atas kebiasaan itulah kadang aku berhubungan baik dengan para penjual-penjual, baik itu penjual Sparepart, ATK, Sayur, Sembako sampai penjual ikan-ikan di Pasar, karena hal tersebut sudah menjadi langganan setiap belanja. Hingga hal yang paling ku ingat adalah saat bulan puasa menjelang hari Lebaran, aku mendapatkan banyak bingkisan dan hadiah dari penjual sayur, ikan dan ayam. Karena keseringan belanja dalam jumlah banyak aku diberi, baju dan biskuit untuk Lebaran, wkwkwkwk.. mungkin karena mereka sudah akrab dan terbiasa ngobrol-ngobrol sehingga seperti pelanggan setia di kalangan pedagang-pedagang Pasar Tradisional, tepatnya Pasar Keraton Kota Rantau.

Hingga saat aku menulis artikel ini aku masih teringat-ingat pengalaman dan kisah menarik saat di Pasar Keraton tersebut, karena saat aku menulis artikel ini seperti kejadian 6 Tahun lalu, yakni saat menjalankan Ibadah Puasa. Setiap aku ingin belanja sayur kayak emak-emak, hehehee.. aku selalu disambut baik oleh ibu-ibu penjual sayur dan ikan-ikanan di pasar, mungkin juga cara membeliku tanpa menawar tidak seperti emak-emak lainya dipasar, wkwkwkwk..

Kebiasaanku saat belanja selalu tanya harga dan jika cocok tidak mahal dan tidak terlalu murah langsung membelinya dengan jumlah banyak, kebetuhan banyak tersebut untuk mencukupi makan setiap hari bagi 45 orang. Mencari sparepart dan kebutuhan makan dengan harga pas wajib dilakukan dilapangan, hal ini dilakukan untuk mengepaskan Budget Mingguan Proyek, jika kelebihan akan di tegur Kantor Pusat, jadi harus pandai-pandai memanage keuangan kayak emak-emak dipasar. 😀

Tapi ada kejadian yang membuatku sedikit bersedih dan teringat nenek dirumah yang sudah meninggal adalah saat berlangganan Ikan Air Tawar, Seperti Ikan Nila dan Ikan Emas di Pasar Tradisional Keraton. Penjual Ikan air tawar ini sudah nenek-nenek tapi masih sehat, raut wajahnya kriput dan suka tersenyum jika melayani penjual. Selain itu ketika ngobrol beliau ini menggunakan bahasa banjar dan terkadang aku tidak mengerti tapi aku tetap mengangguk-angguk, walaupun begitu aku tetap berusaha mengerti pembicaraannya. Nenek ini yang membuatku sealu membeli ikan air tawar, karena meskipun sudah tua tapi beliau masih berjualan di pasar dan tetap semangat melayani pelanggan. Yang membuat lucu adalah ketika aku gak ngerti perkataanya dan hanya mengangguk-angguk terkadang ada penjual ikan laut yang juga langgananku mengartikan apa yang diomongkan, maklum saja kebanyakan orang tua di Kota Rantau dan Kalsel tidak terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia.

Tertipu Dengan Penampilan Perempuan Banjar

Jalan kenangan, Jalan H. Isbat berlatar Toko Langganan

Selain berlangganan sayur-mayur dan lauk pauk di Seputaran Pasar Keraton aku juga berlangganan sembako, akan tetapi Toko sembako yang aku pilih berada di kawasan luar Pasar Keraton, tepatnya di Sebrang Jalan arah masuk ke Pasar Keraton. Hal ini terjadi karena harga-harga kebutuhan pokok di Toko ini lebih murah dibandingkan dengan di Pasar, sehingga aku selalu menyempatkan untuk berbelanja di Toko ini. Seingatku nama Toko ini adalah Toko Haji Muis. Pertama kali ke toko ini pertengahan Tahun 2012 bangunanya masih terdiri dari 2 ruko, ruko satu menjual ATK dan sembako, sedangkan yang satu menjual snak dan kebutuhan minuman, seperti kopi teh dan minuman ringan. Dan saat kembali ke Toko ini sekitar awal Tahun 2014 ruko dari Toko ini berubah dan saat itu menjadi 4 Ruko dan tetap di bagi dua, serta barang-barang daganganya juga semakin banyak dan kompleks. Terkadang di pikiranku terlintas, ketika orang berusaha sendiri dengan berdagang dan menjalankanya dengan istiqomah, dia akan berkembang dan rezekinya semaking lama semakin besar mengalir dari segala penjuru, berbeda dengan karyawan hanya ada satu sumber pendapatan yakni Gaji. Dan suatu saat aku harus berdagang atau berusaha sendiri, karena dengan berusaha segala sesuatunya baik itu untung atau rugi kita yang merasakan.

Kembali ke tema cerita, hehehee.. saat pertama kali aku mampir di toko ini, aku dan teman sopir yang mengantar sebut saja Jul tanya-tanya harga barang kebutuhan mess seperti Gula, Kopi, Air mineral, Teh dll. Ternyata harga disini sangat murah dibandingkan dengan toko lain baik di pasar maupun di pinggir-pinggir jalan. Saat itu juga aku masuk dan survey sekalian muter-muter mencari dan memilih barang kebutuhan sembako, saat keenakan milih-milih aku melihat ada wanita berjilbab sedang mengangkat dan memindahkan barang-barang toko, kelihatanya wanita ini karyawan toko atau penjaga toko. Saat itu aku bertanya dari belakang, “mbak, Kopi Kapal A*i yang satu dus ada?” sepontan mbak nya berbalik arah dan menjawab, “tunggu sebentar dicek dulu” saat itu juga aku kaget dan berpikir jika wanita itu mungkin anak pemilik toko, karena parasnya masih muda dan terlihat seperti anak smp di tempat asalku kota Malang, selain itu dalam pikiranku menyatakan bahwa anak perembuan ini benar-banar pekerja keras dan berbakti, rela kotor dan capek-capek mengangkat dan memindahkan barang-barang ditoko.

Beberapa saat kemudian dia keluar dan menjawab “ada, tunggu sebentar ya” aku langsung menjawab “iya mbak.” dia naik keatas dan memnggil “abii.. abii..” dan turunlah laki-laki dari lantai dua sambil menggendong anak kecil sambil berkata “iya mi” dan perempuan itu berkata “tolong ambilkan kopi satu dus” laki-laki itu menghampiri perempuan tadi dan berkata “tolong gendong dulu” setelah itu laki-laki tersebut mengambil kopi satu dus yang telah aku pesan. Dari kejadian sepintas itu, aku diantara percaya dan tidak percaya, ternyata perempuan itu sudah punya suami dan anak meskipun terlihat masih muda dan belia. Sontak saja aku berbisik kepada Jul yang asli Banjar, “bro, aku ketipu, kirain masih sekolah, hehee..” si Jul menjawab, “yahh lu baru tau bro, di Banjar sudah biasa orang nikah muda itu bro, lain kali klo liat cewek liat dlu bibirnya, klo bergincu dy itu pasti sudah menikah, begitu kebiasaan orang Banjar klo di daerah.”

Setelah mengobrol dengan Jul, laki-laki itu keluar dngan satu dus kopi ditanganya, aku langsung membayar kopi tersebut dan beralih ke ruko sebelahnya untuk mencari Gula Pasir. Di Ruko sebelahnya ini penjualnya kelihatan sudah ibu-ibu dan bapak-bapak paruh baya, disini aku sudah tidak canggung lagi bertanya barang-barang dan harga. Dan ketika aku mau membayar semua di kasir aku melihat perempuan muda juga seperti di ruko sebelahnya, wajahnya juga mirip dengan perempuan tadi, dan berhubung aku sudah trauma kejadian tadi, aku hanya melihat saja dan berpikir “jangan-jangan anaknya penjual toko ini juga sudah menjadi ibu-ibu dan punya anak juga, hehee..” tapi meskipun begitu aku tetap berlangganan di toko ini karena murah meriah. Sambil belajar kepada pasangan muda-mudi disini dalam membina biduk-biduk rumah tangga dan bekerja bersama mencukupi kebutuhan keluarganya. assseeeekkk..

Dan kejadian unik ini bisa menjadi pengalaman dan pelajaran meskipun sepele, karena di Kalsel ini didaerah-daerah nya banyak pernikahan Muda atau di bawah umur, terkadang menurut cerita-carita pekerja yang asli dari suku Banjar ada juga janda-janda yang masuh muda dan belia di daerah-daerah, karena menikah muda, tidak cocok atau sama-sama belum siap dan kurang dewasa akhirnya bercerai, Naudzubillah.

Kesimpulan 😀

Demikian kisah-kisah hikmah, eh salah wkwkwkwk.. maksudku kisah pengalaman dan pejalanan kerja di kalimantan selatan, semoga menjadi pelajaran bagiku pribadi dan mungkin bagi pembaca, semoga bermanfaat. Dan jangan saja meninggalkan jejak kaki saja ketika anda mengunjungi tiap jengkal Nusantara, tapi tinggalkan kisah dan cerita baik yang bisa di ceritakan kepada anak cucu kelak dan orang-orang sekitar anda agar dapat lebih menghargai perbedaan yang ada dan tetap bersatu dalam satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa.

Bersambung..

Related posts

Cerita Awal untuk Lebih Mencintai Indonesia

Rud

OTW Tahun Baru 2019, Malang – Tulungagung PP dan ke Jatim Park 3

Rud

Pelajaran saat Penutupan Proyek dan Perjalanan Pertama ke Kota Rantau Kalimantan Selatan

Rud

Leave a Comment