Jejak Kaki

Dari Danau Beratan Menuju Pura Tanah Lot

Perjalanan ke Tanah Lot

Tanggal 28 Desember 2019, Setelah puas jalan-jalan dan menikmati keindahan Pura Danau Beratan aku dan keluarga langsung bergegas meghubungi Pak Sopir yang berada diluar area tempat wisata, dikarenakan tempat parkir mobil penuh dan jalan utama macet pak sopir memutuskan untuk memarkir diluar kawasan wisata. Setelah semua memasuki mobil perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Tanah Lot, saat membuka google map dan mengukur jarak tempuh perjalanan, kurang lebih perjalanan ditempuh selama dua jam dan lalulintas dalam kondisi lancar.

Keunikan Kultur Masyarat Bali

Perjalana ke Tanah Lot ini sedikit menarik, karena saat ditengah perjalanan kita sempat berpapasan dengan rombongan dan iring-iringan warga untuk melaksanakan upacara adat. Rombongan ini menarik perhatianku karena hampir semua baik itu pria dan wanita mengenakan pakaian adat khas bali, semua pria memakai sarung khas bali, kemeja putih ikat kepala khas bali dan tidak lupa menyelipkan bunga di kupingnya, sedangkan yang perempuan memakai kemben atau sewek (jawa) dan atasanya memakai kebayak warna putih semua, tidak lupa membawa sesaji dan makanan yang di bawa diatas kepala. Dan yang membuat aku terkejut semua rombongan tidak memakai alas kaki dan perjalanan tersebut diiringi oleh alat musik khas bali yang di bawa bersamaan dengan iring-iringan.

ilustrasi:
https://www.beritabali.com/assets/CKImages/images/IMG-20190111-WA0052.jpg

Itulah salah satu keindahan kultur dari masyarakat bali, masih memegang erat budaya leluhurnya meskipun hidup di era milenial, aku sendiri jujur iri melihat peristiwa dalam perjalanan kali ini, karena di kampungku sendiri kota malang hal ini jarang tampak karena sebagian besar warganya sudah bergaya hidup kebarat-baratan apalagi dengan adanya klub sepak bola, jadilah kiblat warga malang beralih ke eropah dimana tempat suporter dan klub bola terkenal dijagat berada. Sedangkan di bali meskipun tidak sedikit bergaya hidup kebarat-baratan akan tetapi pemuda-pemudi, tua-muda dan anak-anak selalu berarak-arakan memakai baju adat disetiap peristiwa penting di Bali. Sungguh indah pemandangan tersebut, guyup rukun dan berciri khas Nusantara.

Sampai di Pura Tanah Lot

Setelah perjalanan selama 2 jam akhirnya kami sekeluarga sampai di kota Tabanan Bali, dipesisir pantai kota ini lah Pura Tanah Lot berada. Sesampainya di kawasan wisata pura cuaca saat itu kurang bersahabat, sama seperti saat mengunjungi Danau Beratan, Matahari tertutup awan tebal, padahal di kawasan Pura Tanah Lot ini sangat cocok untuk melihat sunset. Ketika kami sekeluarga tiba dibibir pantai, ternyata pengunjung atau wisatawan lokal dan mancanegara telah memenuhi kawasan pantai, benar-benar seperti pasar, penuh dan berjejal orang yang akan melihat sunset dan melihat pura.

Pada saat di bibir pantai kami sekeluarga penasaran dengan ular yang dikeramatkan, sehingga kami mencoba untuk melihatnya. Ternyata ular itu seperti ular laut yang berwarna hitam putih (lorek) kami di ijinkan untuk memegang dan melihatnya setelah menyumbangkan uang kepada bapak-bapak yang menjaga. Setelah puas melihat ular Ibu, adik dan ponakanku ingin pergi ke pura yang terletak di batu besar dan harus menyebrangi air laut yang telah pasang dan berombak meskipun tidak sebesar di sebelah kanan dan kiri kawasan pura. Sebelumnya aku pernah mengunjungi pura ini sekitar tahun 2014, dan tidak ada perbedaan yang signifikan hanya saja saat itu aku kesini saat hari biasa dan air laut tidak pasang, jadi leluasa untuk jalan-jalan melihat suasana tanah lot.

Sejarah Pura Tanah Lot

Pura Tanah Lot di sadur dari wikipedia adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam.

ilustrasi:
http://khachilife.com/wp-content/uploads/2017/07/Sunset-Pantai-Tanah-Lot.jpg

Sejarah Pura Tanah Lot Bali Indonesia berdasarkan legenda, dikisahkan pada abad ke -15, Bhagawan Dang Hyang Nirartha atau dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra melakukan misi penyebaran agama Hindu dari pulau Jawa ke pulau Bali. Pada saat itu yang berkuasa di pulau Bali adalah Raja Dalem Waturenggong. Beliau sangat menyambut baik dengan kedatangan dari Dang Hyang Nirartha dalam menjalankan misinya, sehingga penyebaran agama Hindu berhasil sampai ke pelosok – pelosok desa yang ada di pulau Bali.

Dalam sejarah Tanah Lot, dikisahkan Dang Hyang Nirartha, melihat sinar suci dari arah laut selatan Bali, maka Dang Hyang Nirartha mencari lokasi dari sinar tersebut dan tibalah beliau di sebuah pantai di desa yang bernama desa Beraban Tabanan. Pada saat itu desa Beraban dipimpin oleh Bendesa Beraban Sakti, yang sangat menentang ajaran dari Dang Hyang Nirartha dalam menyebarkan agama Hindu. Bendesa Beraban Sakti, menganut aliran monotheisme.

Dang Hyang Nirartha melakukan meditasi di atas batu karang yang menyerupai bentuk burung beo yang pada awalnya berada di daratan. Dengan berbagai cara Bendesa Beraban ingin mengusir keberadaan Dang Hyang Nirartha dari tempat meditasinya.

Menurut sejarah Tanah Lot berdasarkan legenda Dang Hyang Nirartha memindahkan batu karang (tempat bermeditasinya) ke tengah pantai dengan kekuatan spiritual. Batu karang tersebut diberi nama Tanah Lot yang artinya batukarang yang berada di tengah lautan. Semenjak peristiwa itu Bendesa Beraban Sakti mengakui kesaktian yang dimiliki Dang Hyang Nirartha dengan menjadi pengikutnya untuk memeluk agama Hindu bersama dengan seluruh penduduk setempat.

Dikisahkan di sejarah Tanah Lot, sebelum meninggalkan desa Beraban, Dang Hyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada bendesa Beraban. Keris tersebut memiliki kekuatan untuk menghilangkan segala penyakit yang menyerang tanaman. Keris tersebut disimpan di Puri Kediri dan dibuatkan upacara keagamaan di Pura Tanah Lot setiap enam bulan sekali. Semenjak hal ini rutin dilakukan oleh penduduk desa Beraban, kesejahteraan penduduk sangat meningkat pesat dengan hasil panen pertanian yang melimpah dan mereka hidup dengan saling menghormati.

  • Legenda

Menurut legenda, pura ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa, yaitu Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu, penguasa Tanah Lot yang bernama Bendesa Beraben merasa iri kepadanya karena para pengikutnya mulai pergi untuk mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben kemudian menyuruh Danghyang Nirartha meninggalkan Tanah Lot. Danghyang Nirartha menyanggupi, tetapi sebelumnya ia dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura di sana. Ia juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhirnya disebutkan bahwa Bendesa Beraben menjadi pengikut Danghyang Nirartha.

  • Renovasi

Pura Tanah lot selama ini terganggu oleh abrasi dan pengikisan akibat ombak dan angin. Oleh sebab itu, pemerintah Bali melalui Proyek Pengamanan Daerah Pantai Bali melakukan memasang tetrapod sebagai pemecah gelombang dan memperkuat tebing di sekeliling pura berupa karang buatan. Daerah di sekitar Tanah Lot juga ditata mengingat peran Tanah lot sebagai salah satu tujuan wisata di bali.

  • Odalan di Pura Tanah Lot

Renovasi pertama dilakukan sejak tahun 1987 sebagai proyek perlindungan tahap I. Pada tahap ini, pemecah gelombang (tetrapod) seberat dua ton diletakkan di depan Pura Tanah Lot. Selain itu, bantaran beton serta dinding buatan juga dibangun sebagai pelindung hantaman gelombang. Namun, peletakan tetrapod mengganggu keindahan dan keasrian alam di sekitarnya sehingga diadakan studi kelayakan dengan melibatkan tokoh agama dan masyarakat setempat pada tahun 1989. Desain bangunan pemecah gelombang di bawah permukaan air dan pembuatan karang buatan dibuat pada tahun 1992 dan diperbaharui lagi pada tahun 1998. Perlindungan pura mulai dilaksanakan sekitar bulan Juni 2000 dan selesai pada Februari 2003 melalui dana bantuan pinjaman Japan Bank for International Cooperation (JBIC) sebesar Rp95 miliar. Keseluruhan pekerjaan meliputi bangunan Wantilan, Pewaregan, Paebatan, Candi Bentar, penataan areal parkir, serta penataan jalan dan taman di kawasan tanah lot.

  • Lokasi

Objek wisata tanah lot terletak di Beraban, Kediri, Tabanan, sekitar 13 kilometer di sebelah selatan Kota Tabanan.

Di sebelah utara Pura Tanah Lot, sebuah pura lain yang dibangun di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan Pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung). Pura ini disebut Pura Karang Bolong.

  • Hari raya

Odalan atau hari raya di Pura ini diperingati setiap 210 hari sekali, sebagaimana pura lain pada biasanya. Jatuhnya dekat dengan perayaan Galungan dan Kuningan, tepatnya pada Hari Suci Buda Cemeng Langkir

Penutupan Liburan Hari ini

2018

Sebelumnya pada tahun 2014 saat berkunjung disini, saat itu aku dan temanku mengadakan acara backpackeran kecil-kecilan untuk mengisi waktu cuti dari kerjaan, meskipun ditempat yang sama tapi tidak ada perbedaan dan perubahan bangunan dan tempat wisata di tanah lot ini, hanya saja ada sedikit penambahan accesories di bangunan-bangunan pura. Sedangkan untuk wisatawan tetap ramai baik itu dari dalam negri maupun manca negara, karena Pulau Dewata Bali sudah sangat terkenal di dunia Internasional.

2014

Setelah puas mengunjungi Danau beratan dan berkeliling di kawasan wisata Pura Tanah Lot kami sekeluarga sepakat untuk kembali dan perg ke hotel, karena hari sudah mulai gelap dan sunset yang ditunggu-tunggu tidak nampak. Jam menunjukan pukul 19.00 WITA, kami sekeluarga bergerak menuju hotel dan ditengah perjalanan terjebak kemacetan jalan di Bali, hingga pukul 21.00 WITA kita sampai di hotel. Hotel kami terletak di kawasan Legian, dimana kawasan itu sangat macet dan padat oleh kendaraan dan pejalan kaki.

Related posts

Pembelajaran dari Proyek Pengeboran Batu Bara di Kota Rantau Kalimantan Selatan

Rud

Mengunjungi Pura Bedugul dan Masjid Besar Al Hidayah di kawasan Wisata Danau Beratan

Rud

Pelajaran saat Penutupan Proyek dan Perjalanan Pertama ke Kota Rantau Kalimantan Selatan

Rud

Leave a Comment