Jejak Kaki

Pelajaran saat Penutupan Proyek dan Perjalanan Pertama ke Kota Rantau Kalimantan Selatan

Setelah Proyek pengeboran Site Coremine Margasari, Kutai Kartanegara berakhir, aku dan tim pengeboran batu bara lainya langsung ditugaskan untuk membuka proyek di daerah Kalimantan lainya, yakni Kota Rantau,  Kalimantan selatan. Saat menutup proyek 27 Juni 2012, banyak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kesalahan perhitungan load unloading perlengkapan dan peralatan Pengeboran, mundurnya Crew yang kurang diperhatikan dan kebiasaan Buruk Pekerja Tambang terutama divisi Pengeboran.

Penutupan Proyek Pengeboran

  • Kesalahan perhitungan Load Unloading Perlengkapan dan Peralatan Pengeboran
Pertemuan terakhir di Kaltim

Dimulai dari load dan unloading Perlengkapan dan Peralatan Pengeboran atau bahasa awamnya pemindahan alat-alat dan perlengkapan dari lokasi titik / mess ke workshop Perusahaan di KM 15 Samarinda. Kesalahan ini merupakan kesalahan fatal dan selalu kujadikan pelajaran dimanapun berada, karena pada saat itu aku sangat percaya kepada Foreman/pengawas lapangan dan para operator pengeboran yang menjadikan perhitungan budget load unloading tidak sesuai dengan kebijakan Perusahaan, karena saat itu aku melihatnya sebagai orang-orang yang berpengalaman dibidangnya. Tapi apa yang terjadi justru orang tersebut memanfaatkan kepolosanku yang boleh dibilang anak kemarin sore yang bekerja di pengeboran. Singkat cerita yang terpenting bagiku adalah bisa mengambil pelajaran dari masalah tersebut, yakni kita harus selalu cross check baik di lapangan dan dikantor pusat (koordinasi) apapun yang kita lakukan di lapangan, karena keberlangsungan pekerjaan dilapangan selalu berhubungan langsung dengan Pusat, bahasa kasarnya tanya-tanya dulu sebelum mengerjakan dan membelanjakan budget keuangan jika kita tidak tahu pasti atau ragu-ragu mengenai pengerjaan yang terjadi di lapangan.

  • Mudurnya Crew berprestasi yang akan di Promosikan
Bersama Ass Driler didepan Workshop KM 15 Samarinda

Ketika semua perlengkapan, peralatan dan man power tiba di workshop, semua man power atau karyawan, baik crew, driller beserta assisten driller beristirahat total. Karena proses unloading sangat menguras tenaga, sedangakan aku dan pengawas lapangan di panggil ke ruang workshop menemui supervisor untuk memplaningkan mobilisasi karyawan ke Kota Rantau, Kalimantan Selatan. Setelah semua terkumpul di ruang kerja Spv, pembagian tugas dan tanggung jawab diberikan. Dan ketika itu ada penilaian Crew yang akan di Promosikan menjadi Ass Operator Mesin Bor. Semua menduga bahwa nama alex (sebut saja begitu) menjadi kandidat yang bakal menempati posisi itu karena kinerjanya sangat bagus dan hubungan antar sesama crew serta atasan sangat baik. Tapi apa terjadi, setelah nama-nama diumumkan ternyata diluar dugaan semua, nama crew sebut saja sokep menjadi assisten driller. Sontak saja semua crew yang ada dikamar mess workshop kecewa, padahal kinerja dan hubungan antar sesama serta atasan sangat buruk sekali. Hal ini lah yang membuat si Alex sakit hati sehingga dia memutuskan resign saat itu juga dan tidak melanjutkan perjalanan ke Kalsel. Hal ini malah mengecewakan crew-crew lainya dan membuat mereka patah semangat, karena yang namanya alex ini sangat di senangai teman-teman sesama crew. Hingga suatu hari terdengan kabar bahwa si sokep ini masih ada hubungan keluarga dengan yang punya perusahaan (pantesan tidak dipandang kinerjanya) hingga dia dikirim ke Sumatra, Saat di Sumatra itulah kinerjanya terlihat mencolok dari teman-teman sesama assisten operator, karena tidak bisa memback up pekerjaan operator itu sendiri dan malah menghambat progress dilapangan sehingga kinerja perusahaan ikut terganggu dan mungkin juga di mata client yang mengawasi pengeboran kurang baik. Hal inilah yang menjadikan pelajaran bahwa segala sesuatu harus dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar ahli dan cakap dibidangnya, karena pekerjaan dilapangan tidak main-main, harus dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar berpengalaman.

  • Kebiasaan Buruk Pekerja Tambang terutama divisi Pengeboran
Jalan kuy

Jauh dari keluarga dan tinggal di hutan atau dipedalaman selama berhari-hari merupakan ketidak nyamanan bagi pria dewasa, hal ini karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan karyawan untuk bekerja secara rooster atau bulanan, jika ditambang biasanya pekerja mendapat 60 hari kerja dan 14 hari cuti kerja. Dan ketika 60-75 hari kerja itulah yang membuat tidak betah untuk “berlama-lama” dipedalaman, untuk mengatasi itu semua terkadang mereka sesekali pergi jalan-jalan kekota jika saat liburan atau ijin tidak bekerja. Kecuali aku, karena aku setiap seminggu pasti 2-3 kali ke kota untuk berbelanja perlengkapan mesin dan kebutuhan makanan di mess. Hal yang negatif adalah ketika kejenuhan semakin memuncak terkadang karyawan di mess, membeli minum-minuman keras dan berjudi bahkan ada yang seminggu sekali mereka pergi ke Kompleks WTS karena tidak bisa menahan masalah yang satu itu. Kecuali aku, karena aku adalah orang baik-baik, heheheee… dan ini tidak aku ceritakan lebih mendetail, karena kebiasaan buruk ini tidak pantas untuk diceritakan.

OTW Kota Rantau Kalimantan Selatan

sebelah kiri samping mobil, warnet langganan 😀

Perjalanan ini sudah di rencanakan sehari sebelumnya, perjalanan darat yang membawa crew beserta perlengkapannya bergerak melalui jalur darat menuju Kota Rantau, perjalanan di mulai dari Workshop KM15 di Kota Samarinda, kurang lebih perjalanan darat ini memakan waktu 14 jam, dari mulai siang hari, sampi kota Rantau pagi hari.

ilustrasi Mogok,

Saat itu mobil sempat mengalami masalah pada mesin ketika perjalanan tengah malam, untungnya saat itu terjadi di perkampungan penduduk, jadi banyak penerangan. Coba saat itu mesin mati di tengah hutan, bisa-bisa semua terlantar di pedalaman, tanpa penerangan lampu, wkwkwk. Tapi untungnya mesin bisa di hidupkan lagi karena jasa Mekanik DJPM yang bernama Mansur, Mekanik kelas Wahid, hehehee

Menunggu pengisian BBM

Yang menarik dari perjalanan ini adalah, hampir sebagian besar perjalanan yang kulewati adalah hutan hujan tropis, pohonnya besar-besar dan rindang, seperti difilm-film yang aku tonton di TV. Hampir di setiap perjalanan kita selalu berhenti hanya untuk makan dan pergi ke toilet, perjalanan darat yang benar-benar melelahkan. Untuk mempersingkat perjalanan kita tidak sepenuhnya melalui jalur darat, saat tiba di Kota Balikpapan kita menempuh jalur penyebrangan Laut, melalui teluk Balikpapan menuju ke Penajam. Disini kita diharuskan naik Kapal Very, kurang lebih 1 jaman, karena jalan darat dari Balikpapan menuju Penajam rusak berat, dan jika dilalui kendaraan harus antri dan bergantian.

Jalan menuju Mess di Tambarangan

Setelah melewati teluk Balikpapan, kita langsung menuju perbatasan Kaltim-Kalsel,  yang unik disini adalah jalan perbatasan dan Gapura nya terletak di atas bukit, dan dikelilingi hutan lindung, hal ini membuat udara begitu sejuk dan nyaman bagi pengguna jalur darat. Di gapura perbatassan ini banyak penjual seperti puncak-puncak di Pulau Jawa, kita menyempatkan berhenti sejenak untuk membeli minum, buang air dan beristirahat. Setelah semua siap perjalanan kembali dilanjutkan, kurang lebih 2 jam perjalanan darat dari perbatasan hingga sampai di Kota Amuntai, sekilas seperti nama thailand tapi ini masih di kalsel, Indonesia. Waktu itu menunjukkan pukul 5.30, Pak Salim supir yang memandu perjalanan Rombongan 3 Mobil mengajak untuk menepi dulu dan beristirahat sebentar, kurang lebih satu jam semua tidur dimobil karena kecapek an dalam perjalanan kurang lebih 16 jaman.

Singgah di Tahu Sumedang Rest area

Setelah semua puas tidur walau sejenak akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Kota Rantau. Kurang lebih 4jaman lagi perjalanan, dan ini merupakan perjalanan yang sungguh panjang dan melelahkan. Perbedaan jalan di kaltim dan kalsel adalah, jika di kaltim banyak terdapat hutan lindung, sedangkan di kalsel banyak kebun sawit, rumah penduduk dan tidak jarang ada sawah. Sedangkan penduduk asli di kaltim sebagian di sebut dengan Suku Dayak Kutai dan di Kalsel disebut Suku Dayak Banjar.

Masjid di Kota Rantau, Kalsel

Setelah 4jaman hanya melihat panjangnya jalan raya, akhirnya kita sampai pada Kota Rantau, kota kecil yang menyisahkan banyak kenangan manis. Tapi saat itu kita tidak tinggal di Kota Rantau akan tetapi mess yang ditempati untuk bekerja terletak di daerah Tambarangan, kira-kira 1jaman dari Kota Rantau, benar-benar perjalanan darat seperti mencari kitab suci, heheee puaanjaaang..

Santai di depan Mess, depan Hutan, belakang Hutan Samping Kebun 😀

Related posts

Otw Liburan Ke Pulau Dewata Bali

Rud

OTW Tahun Baru 2019, Malang – Tulungagung PP dan ke Jatim Park 3

Rud

Cerita Awal untuk Lebih Mencintai Indonesia

Rud

1 comment

http://canadianorderpharmacy.com/ June 4, 2019 at 9:55 am

Way cool! Some very valid points! I appreciate you penning this post and the rest of the site is very good.

Reply

Leave a Comment