Jejak Kaki

Sumber Alami di Pemandian Banyu Biru Pasuruan

Sekilas tampaknya tidak ada yang terlalu istimewa di Banyu biru. Kecuali beberapa kolam pemandian yang airnya amat jernih. Sekelilingnya, tumbuh berbagai jenis pohon besar yang rindang. Ada jenis beringin, trembesi, angsana,dan masih banyak lagi. Suasananya amat teduh, udaranya segar, sehingga sangat cocok untuk ber santai bersama keluarga, melepas kelelahan ataupun mencari inspirasi baru.

Bila ditelusuri lebih jauh, objek wisata alam yang terletak di Desa Sumberejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan ini, banyak menyimpan kisah menarik untuk dicermati.

Lokasi Wisata Banyu Biru

Areal pemandian ini tidak lebih dari 1 hektar, dan letaknya persis di sudut Desa Sumberejo. Tepat di tengah perkampungan penduduk dan kawasan pertanian yang subur, sehingga udaranya terasa sangat segar. Dulu, pemandian ini dikenal sebagai Telaga Wilis, dan menurut kepercayaan masyarakat sekitar, bagi yang ingin mandi dan berendam di kolam ini bisa menjadi awet muda. Juga bisa memperoleh berkah. Karenanya, pada tiap malam Jumat Legi (menurut pasaran Jawa) banyak anggota masyarakat yang mandi dan berendam di kolam itu.

Untuk mendatangi kawasan Banyu biru memang tidak terlalu sulit. Dari Kota Pasuruan, jaraknya hanya 17 kilometer, dan dapat ditempuh dengan berbagai jenis kendaraan. Ada juga angkutan umum jenis mikrolet yang langsung melintasi areal ini. ‘Ongkosnya juga murah, hanya Rp 4.000 untuk sekali jalan.

Fasilitas Banyu Biru

Ada dua pintu masuk yang tersedia di sana. Setelah membeli karcis tanda masuk, pengunjung boleh langsung masuk dan menikmati semua fasilitas yang ada di dalamnya. Di bagian yang satu terdapat tiga buah kolam pemandian yang benar-benar alami, sedang di bagian lainnya terdapat dua buah kolam yang dinding dan dasarnya dipasang ubin warna biru muda. Airnya benar-benar jernih dan segar karena sumbernya langsung dari alam, muncul begitu saja dari dasar dan pinggir-pinggir kolam. Tapi, pengunjung yang datang ke tempat itu tidak semuanya berniat untuk mandi dan berenang. Sebagian besar justru hanya jalan-jalan di seputar kolam, duduk-duduk di bawah rindangnya pepohonan, ataupun makan-minum di warung-warung sederhana yang memang banyak tersedia di sana. Sedang bagi yang benar-benar ingin mandi dan berenang boleh menikmati kesegaran dan kesejukan air Banyu biru sepuas-puasnya. Di sana terdapat juga fasilitas penyewaan baju renang, dan bahkan penyewaan tikar bagi yang berminat.

Fasilitas untuk mandi dan renang di sana memang relatif baik meskipun belum memadai untuk disebut sebagai kolam renang. Mungkin akan lebih menarik lagi bila kolam buatan yang tersedia dilengkapi dengan papan loncat, papan luncur, dan kelengkapan lainnya. Sehingga peminat yang datang mandi dan berenang di sana ada pilihan lain untuk melengkapi kenyamanan selama berada di Banyubiru. Di samping itu, faktor kebersihan sudah sewajarnya kalau lebih ditingkatkan lagi agar benar-benar memenuhi standar sebagai objek wisata alam yang menarik untuk dikunjungi.

Sumber Alam dan Sumber Pendapatan Daerah

Pada hari-hari Minggu biasa, pengunjung yang mendatangi tempat itu rata-rata mencapai 1.000 orang. Namun, kalau pada hari-hari liburan sekolah jumlahnya bisa berlipat. Makanya, tidak heran kalau pada tahun anggaran yang lalu, Banyu biru mampu memasok pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dan, pada tahun anggaran yang sedang berjalan, diperkirakan jumlah pendapatan minimal sama dengan pendapatan tahun yang lewat.

Sumber air di kolam-kolam yang ada di Banyubiru memang berasal dari alam. Di sisi-sisi dan dasar kolam muncul mata air dengan debit sekitar 150 liter per detik. Karena itu limpahan sumber air ini digunakan juga untuk memasok kebutuhan air minum di sekitar Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan. Banyubiru membawa keberuntungan tersendiri bagi Pemkab Pasuruan, baik sebagai objek wisata maupun sumber alam bagi penyediaan kebutuhan air bersih bagi warga di sekitarnya.

Wisatawan asing, terutama Belanda, juga berkunjung ke tempat ini. Jumlah mereka tidak begitu banyak. Kedatangan mereka juga hanya sekadar melihat-lihat. Mungkin ingin tahu, karena tempat ini memang sudah menjadi kolam sejak zaman penjajahan Belanda dulu. Mereka mungkin mengetahui tempat ini dari para nenek moyang mereka yang pernah bertugas di Indonesia.

Kawasan pemandian sekaligus objek wisata alam Banyubiru sebenarnya punya potensi yang cukup menjanjikan. Andaikata di dalam kompleks pemandian itu dilengkapi dengan sarana bermain, taman aneka bunga, penyediaan cenderamata, serta perawatan yang lebih baik, maka di masa-masa mendatang bukan tidak mungkin Banyubiru ini akan menjadi objek wisata andalan daerah ini.

Legenda Banyubiru

Bermula dari Peralihan kekuasaan dari kerajaan Majapahit ke Kerajaan Demak

Kisah ini dimulai ketika masa-masa berakhirnya kerajaan terbesar di Nusantara yakni Majapahit, Pelan tapi pasti kerajaan Majapahit yang di bangun dengan persatuan dan kesatuan diantara pemangku kerajaan berlahan telah memudar cahayanya, karena faktor dari internal dan eksternal Kerajaan. Selain disebabkan oleh perang saudara untuk memperebutkan kekuasaan dan pemberontakan, terdapat pula faktor lain yang mempercepat keruntuhanya yaitu terpecah belahnya persatuan diantara para pemimpinya. Peralihan kerajaan dari Majapahit yang bercorak Hindu Budha menuju kerajaan Demak yang bercorak Islam dan sebagian besar rakyat Majapahit yang memeluk agama islam turut andil dalam peralihan kerajaan besar ini. Sebagaian kecil lainya yang tetap memeluk agama nenek moyangnya hindu dan Budha, Mereka banyak yang melarikan diri ke daerah lain termasuk ke daerah tengger dan Pulau Bali. Salah satu tempat pelarian itu di sebelah selatan kabupaten Pasuruan, sekarang orang mengenalnya dengan daerah Tengger.

Diantara orang-orang pelarian dari kerajaan Majapahit itu terdapat dua orang bekas prajurit yang terdampar disebuah hutan yang sekarang lebih dikenal dengan nama desa Sumberejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan. Dua orang itu masing-masing bernama KEBUT dan TOMBRO.

Bekas Prajurit Majapahit Menjadi Rakyat Biasa

Hutan itu mereka buka dan babat untuk di jadikan tempat tinggal dan pemukiman baru. Ketika membuka hutan banyak sekali tumbuh pohon pinang maka daerah baru itu lebih terkenal dengan nama jambean (Jambe = pinang , Jawa). Sampai sekarang nama jambean masih ada dan menjadi salah satu pedukuhan desa Sumberejo. Dua orang bekas prajurit itu hidup dengan tenang dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka bercocok tanam seperti layaknya masyarakat disana saat itu. Selain hidup bertani Kebut juga membuka bengkel pandai besi. Sejak dulu dia memang terkenal sebagai empu yang mahir dalam membuat keris dan senjata tajam lainya. Barang peninggalan yang berupa paron masih dapat disaksikan dan terletak di sebelah makamnya yang terdapat didalam Banyubiru. Sedangkan Tombro hanya bertani tapi namanya lebih menonjol dari pada Kebut.

Pada suatu hari kerbau peliharaan Tombro dilepas dari kandangnya. Sebagaimana kebiasaan setiap hari. Kedua ekor kerbau itu mencari makan sendiri tanpa ditemani oleh tuanya maupun gembala yang seharusnya mengawasinya.

Begitulah kebiasaannya kalau kerbau-kerbau tidak di pekerjakan di sawah. Sore harinya pulang sendiri ke kandang di belakang rumah pemiliknya. Tapi pada hari itu kandangnya kosong. Bergegaslah dia berangkat mencarinya ke hutan disekitar desa. Dia melacak berdasarkan telapak kaki-kaki kerbaunya, ternyata kerbau tersebut sedang berkubang di sebuah kolam kecil. Tombro segera bersua agar hewan peliharannya segera pulang ke kandang.

Awal Mula Ditemukan Banyu Biru

Rupanya kerbau-kerbau itu keenakan dan tidak sedikitpun bergerak dari tempatnya, Tombro mendekat dan ternyata kerbau-kerbau itu terperangkap dalam lumpur. Segera dipetiknya empat daun keladi, Keempat daun itu dia hamparkan di depan kerbau dan Tombro membentaknya agar bergerak keatas. Tampak kedua ekor kerbau itu bergerak dan ujung kakinya menggapai daun keladi dan tiba-tiba bangkit keluar dari kubangan lumpur. Hewan-hewan itu segera lari pulang ke kandangnya.

Setelah kerbaunya pergi Tombro berdiri di pinggir kolam. Dipandangannya kolam itu dan dia tidak menyaksikan Lumpur yang keruh lagi, tepi sebuah kolam yang penuh dengan air jernih, hingga dasar kolam yang berpasir itu kelihatan nyata. Bahkan di dasar kolam tampak ikan sengkaring yang sedang asyik berenang. Menurut yang empunya cerita ikan itu lambat laun beranak pinak hingga sekarang. Pengunjung pemandian dapat menyaksikan ikan-ikan itu hingga sekarang, jumlahnya telah berlipat ganda dan berenang menemani pengunjung yang sedang mandi. Dan jernihnya air membuat dasar pasir kelihatan, sehingga airnya kelihatan biru. Mungkin karena air jernih inilah dinamakan banyu biru.

Selain memelihara kerbau Tombro juga memelihara kera. Setelah wafat pak Tombro dimakamkan didekat pemandian dan kera-kera itu berkembang biak hingga beratus-ratus ekor. Pada waktu pendudukan jepang kera-kera itu habis ditembaki dan sisanya menyingkir ke hutan di dekat desa Umbulan yang terkenal dengan sumber air minumnya. Sedangkan cerita pak Kebut tidak banyak dibicarakan orang karena dia hanya menekuni pekerjaan sebagai pembuat alat pertanian. Dia dimakamkan berjajar dengan makam istrinya yang bernama mbok Kainah. Dipinggir kolam renang lama disebelah utara tiap hari jum’at orang-orang Tosari banyak berziarah ke makam tersebut. Menurut yang empunya cerita setiap ada orang yang berusaha memindahkan paron yang berada di dekat makamnya maka keesokan harinya paron itu akan kembali lagi ke tempat asalnya. Boleh percaya boleh tidak.

Dan dengan ditemukannya kolam baru dengan air jernihnya itu maka penduduk Jambean banyak datang menyaksikan. Sejak itu penduduk memeliharanya dengan baik. Tiap hari orang-orang sekitar mandi di kolam dan kolam tersebut dinamakan banyubiru. Hingga suatu saat kabar tentang ditemukannya kolam jernih sempat terdengar oleh Bupati Pasuruan saat jaman penjajahan Belanda yang bernama Raden Adipati Nitiningrat. Bersama-sama seorang pembesar Belanda yang bernama P.W.HOPLAN (Sesuai dengan prasasti yang tertulis dengan huruf jawa) kedua orang itu ikut pula menyaksikannya. Telaga ini dibangun dan dirawat hingga dijadikan pemandian umum. Untuk memperindah pemandian ini dibuat taman-taman bunga dan dilengkapi dengan berjenis-jenis patung yang diambil dari Singosari.

Peninggalan Bersejarah di Banyu Biru

Kira-kira pada tahun 1980 patung-patung yang banyak bersejarah di taman-taman pemandian itu dikumpulkan disatu tempat dan dilindungi oleh seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan. Tempat itu berada di dalam kompleks pemandian yang sekarang lebih terkenal dengan nama Banyubiru.

Patung-patung itu terdiri dari 11 buah antara lain :

  • 2 volkaring dari Pemda Kabupaten Pasuruan dengan bahasa Belanda bertahun 1921.
  • 1 Prasasti bahasa dan huruf Jawa tahun 1847.
  • 1 Patung Betara Siwa dengan membawa senjata trisula.
  • 1 Patung Ganesha.
  • 1 Patung dua ekor naga berbelit dan lain-lainnya yang kami sendiri tidak bisa menyebutnya.

Prasasti yang tertulis di atas batu pualam dengan huruf jawa itu berbunyi:

Telaga Wilis

Rinangga Winangun arja, dening tuwan P.W. Hoplan minulya tuadhani prasamya nalika panjenengane Kanjeng Raden Adipati Nitiadi ningrat sinengkalan “Wisayaning pandhita kaloking rat”. utawi tahun welandi 1847.

Cerita di atas berdasarkan penuturan orang sumber bernama, Pak Kasan yang bertempat tinggal di dukuh Jambean, Sumberejo Kecamatan Winongan. Menurut dia adalah keturunan keempat dari cikal bakal kolam tersebut.

Ditulis kembali dari Sumber utama: pasuruankab.go.id/cerita-38-legenda-banyubiru.html

Jagalah Kebersihan, Buanglah sampah pada tempatnya

Related posts

Ketika Liburan di Bali: Pandawa Beach Festival

Rud

Bekerja di Pengeboran Batu Bara Site Kalimantan Timur

Rud

Ular Suci Pura Luhur Tanah Lot: Titisan selendang Dang Hyang Nirartha

Rud

2 comments

Taman Liburan Keluarga milik Inul Daratista, Saygon Waterpark February 18, 2021 at 2:59 am

[…] Sumber Alami di Pemandian Banyu Biru Pasuruan […]

Reply
Candi Badut, Candi Tertua di Jatim - Jejak Pejalan Kaki February 25, 2021 at 10:18 am

[…] Sumber Alami di Pemandian Banyu Biru Pasuruan […]

Reply

Leave a Comment

You cannot copy content of this page