Jejak Kaki

Sengkaling: Tempat Wisata Legendaris di Malang

Taman wisata legendaris yang bersumber dari aliran Sungai Brantas, yang awalnya dibangun sebagai tempat berwisata warga Belanda yang tinggal di Kota Malang dan sekitarnya. Pengelolanya masih menjaga beberapa bangunan lama seperti pepohonan, taman, jembatan, wahana permainan, kolam renang, dan wahana danau buatan tempat bermain sepeda air. Untuk lebih jauh melihat Taman Rekreasi Sengkaling silahkan melihat video dibawah ini:

Masyarakat Malang, tidak akan asing dengan taman rekreasi Sengkaling yang terletak di Desa Sengkaling, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Dimana tempatnya berada di tepi Sungai Brantas yang menjadi sumber air bagi Danau besar buatan di dalam area taman rekreasi.

Anda juga bisa membaca: Tahun Baru di Bali

Sejarah Singkat Taman wisata air Sengkaling

Pendirinya adalah Mr. Coolman, warga negara Belanda yang memang ingin membuat sebuah tempat untuk wisata keluarga, terutama untuk warga Belanda di Malang. Didirikan sejak tahun 1950, pada 1975 diambil oleh Bentoel Grup dan kemudian kini diambil alih oleh Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 2013.

Mama dari Taman Rekreasi Sengkaling sendiri begitu melegenda bagi wisatawan yang berkunjung ke Malang Raya. Saat ini pengelolaan Sengkaling sudah diakuisisi oleh UMM sehingga penamaanya bukan TRS lagi melainkan Taman Rekreasi Sengkaling UMM.

Pada awalnya, tempat rekreasi ini hanya untuk karyawan yang bekerja di pabrik rokok terlama di Malang yakni PT. Bentoel. Tetapi, seiring perkembangan zaman Taman Rekreasi Sengkaling mulai dibuka untuk umum hingga sekarang. Terlebih pengelolaannya sudah beralih ke Yayasan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. Meski tidak banyak yang berubah dan renovasi bangunan yang ada di dalamnya, tempat ini masih menjadi favorit dan pilihan utama bagi sebagian besar wisatawan luar kota, khususnya generasi Zaman Old. Terutama di setiap hari Sabtu dan Minggu sangat ramai pengunjung.

Baca juga: Ke Jakarta: Khawatir Kondisi Rawan Banjir

Wahana Wisata di Taman Rekreasi Sengkaling

Tiket masuk dibanderol Rp 30.000. Namun untuk menikmati beberapa wahana air, permainan, ataupun sepeda air wisatawan harus mengeluarkan uang sendiri. Misalkan, ingin bersepeda air di telaga buatan selama satu jam, cukup membayar Rp 25.000. Pengelolanya terkadang masih memberikan waktu tambahan untuk main sepeda air. Sementara Rp50.000 untuk tiket terusan, tiket terusan ini adalah tiket yang digunakan untuk mengunjungi atau bermain di wahana lain dengan tidak membeli tiket lagi.

Bersepeda air di telaga buatan memang masih menjadi daya tarik untuk datang ke tempat wisata tersebut. Meski di sana, terdapat berbagai wahana permainan bagi anak-anak, beberapa koleksi binatang dan kolam renang. Selain itu terdapat beberapa kolam pemandian yang airnya berasal dari air Sungai Brantas.

Pengelolanya memang tetap menjaga beberapa bangunan lama dan legendaris seperti pepohonan, taman, kolam renang, dan wahana danau buatan tempat bermain sepeda air. Kebanyakan pengunjung yang datang, memang sengaja bernostalgia karena termasuk legendaris kolam renang pertama di Malang.

Di hari biasa, tempat rekreasi ini dikunjungi sekitar 500 orang. Namun di saat liburan, ataupun hari Sabtu dan Minggu, peningkatannya dapat mencapai 5 ribuan orang. Anda yang ingin bernostalgia atau kali pertama berkunjung ke sana, lebih disarankan untuk datang di hari-hari biasa agar leluasa menikmati semua wahana sampai puas.

Wisata Legendaris Sengkaling, Terus Berinovasi

Saat diakuisisi oleh UMM, renovasi besar-besaran dilakukan oleh Kampus tersebut. Salah satunya adalah pendirian pusat makanan terbesar di Jawa Timur dengan nama Sengkaling Food Festival (SFF) hingga bagian dalamnya seperti penambahan wahana.

Sejak diakuisisi dan dikembangkannya ide-ide baru, TSU kini suasananya ramai kembali, konon kabarnya TSU ini menjadi tempat rekreasi yang menyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah) terbesar di Kabupaten Malang.

“Alhamdulillah, sejak kehadiran SFF dan renovasi besar-besaran, tempat ini menjadi ramai kembali. Ini juga berkat orang-orang muda yang ada di manajemen yang terus mencari inovasi-inovasi baru,” tukas Muhadjir Effendi saat masih menjabat sebagai rektor.

Bukan hanya warga luar Malang saja yang senang ke TSU. Karena ternyata renovasi itu juga menarik minat wisata lokal dari Malang. Bahkan beberapa sekolah TK aktif mengadakan kegiatan rekreasi tiap tahun di sana.

“Sengkaling ini airnya sangat jernih, dan boleh masuk membawa makanan sehingga banyak orang tua yang senang ke sini. TK kami setiap tahun pergi ke Sengkaling,” tegas Marini, salah satu Guru TK di Malang.

Ke depan, Sengkaling akan terus melakukan pengembangan konsep baru untuk melengkapi wahana yang sudah ada. Konsep yang dibidik adalah Edukasi mengingat banyak sekali siswa TK yang datang ke sana. Wahana yang disiapkan seperti edukasi robotik, pertanian, peternakan, hingga miniatur pedesaan misalnya pengunjung yang notabenenya adalah anak-anak mengetahui cara bercocok tanam padi.

“Dengan lahan kurang lebih sembilan hektar, Sengkaling akan terus melakukan inovasi konsep. Salah satunya adalah konsep edukasi,” terang Muslimin, General Manager Taman Rekreasi Sengkaling.

Related posts

Tahun Baru di Bali

Rud

Menyambut dan Merayakan Tahun Baru 2019 – Dari Bromo Langsung tik-tok Gunung Panderman

Rud

Otw Liburan Ke Pulau Dewata Bali

Rud

3 comments

Jalan-jalan ke Jakarta tapi Khawatir dengan Kondisi Jakarta Rawan Banjir di Musim Hujan – Jejak Pejalan Kaki February 29, 2020 at 12:05 pm

[…] Tempat Wisata Legendaris Zaman Old di Malang bernama… […]

Reply
Dari Masjid Al Hidayah menuju Pura Ulun Danau Beratan – Jejak Pejalan Kaki March 2, 2020 at 10:18 am

[…] Tempat Wisata Legendaris Zaman Old di Malang bernama… […]

Reply
Liburan Akhir Tahun Low Budget ke Taman Safari II Indonesia – Jejak Pejalan Kaki March 2, 2020 at 10:45 am

[…] Tempat Wisata Legendaris Zaman Old di Malang bernama… […]

Reply

Leave a Comment