Suku Badui, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Urang Kanekes, adalah salah satu kelompok masyarakat adat Sunda di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, yang hingga kini masih memegang teguh tradisi leluhur mereka. Kehidupan mereka yang selaras dengan alam, jauh dari sentuhan teknologi modern, tidak hanya menghasilkan kearifan lokal yang unik, tetapi juga menciptakan warisan kuliner yang sederhana, sehat, dan sangat autentik.

Makanan khas Suku Badui mencerminkan filosofi hidup mereka: kembali ke alam (back to nature). Bahan-bahan yang digunakan sebagian besar berasal langsung dari hasil kebun, ladang, dan hutan di sekitar pemukiman mereka, diolah tanpa bahan kimia tambahan, dan dimasak dengan cara yang sangat tradisional. Mengenal kuliner mereka adalah pintu gerbang untuk memahami kesederhanaan dan kemandirian Badui.
Prinsip Dasar Kuliner Badui: Kesederhanaan dan Kemandirian
Pola makan Suku Badui sangat dipengaruhi oleh aturan adat mereka. Secara umum, makanan mereka didominasi oleh hasil bumi seperti beras, umbi-umbian, sayuran, dan lauk-pauk dari hasil buruan terbatas atau perikanan sungai.
Beberapa prinsip utama dalam masakan Badui:
- Tanpa Pengawet dan Pewarna: Mereka tidak mengenal bahan tambahan makanan sintetis. Semua rasa murni berasal dari bahan alami.
- Penggunaan Bumbu Sederhana: Bumbu yang digunakan terbatas pada bumbu dasar seperti cabai, garam, bawang merah (untuk Badui Luar), dan bumbu lokal lainnya yang tidak mengandung bahan kimia.
- Teknik Memasak Tradisional: Proses memasak sering menggunakan tungku kayu bakar, gerabah, dan teknik kukus atau panggang yang lambat, menghasilkan cita rasa yang berbeda.
Hidangan Ikonik Suku Badui yang Wajib Dikenal
Meskipun terlihat sederhana, beberapa hidangan khas Badui memiliki karakter rasa dan sejarah yang menarik:
1. Nasi (Sangu) dan Olahannya
Beras adalah makanan pokok utama mereka, seringkali dimakan dalam bentuk Nasi Liwet, yaitu nasi yang dimasak dengan air, garam, dan bumbu sederhana di dalam panci logam atau kastrol. Selain nasi liwet, ada dua olahan nasi yang sangat khas:
- Jojorong: Ini adalah makanan ringan manis yang terbuat dari tepung beras, gula aren, dan santan yang dikukus di dalam wadah daun pisang berbentuk takir. Jojorong memiliki tekstur lembut dengan rasa manis gula aren yang legit.
- Awug: Mirip dengan Jojorong, tetapi Awug biasanya merupakan adonan tepung beras yang dikukus dengan gula merah dan parutan kelapa, disajikan dalam bentuk kerucut atau wadah bambu.
2. Angeun Lada
Salah satu makanan lauk-pauk yang paling terkenal dari wilayah Banten dan memiliki versi otentik di Badui adalah Angeun Lada. Secara harfiah berarti “sayur pedas,” ini adalah hidangan berkuah kental seperti gulai yang kaya rempah. Angeun Lada Badui biasanya menggunakan daging kerbau atau sapi sebagai bahan utama (bagi yang mengonsumsi daging) dan dimasak dengan cabai, kemiri, serta bumbu lain yang memberikan rasa pedas, gurih, dan hangat.
3. Kue Balok dan Olahan Singkong
Singkong dan umbi-umbian adalah makanan cadangan penting bagi Suku Badui. Singkong dapat diolah menjadi berbagai makanan ringan yang mengenyangkan, salah satunya adalah Kue Balok. Kue ini terbuat dari adonan tepung singkong (tapioka) dan kelapa yang dipanggang. Nama “Balok” merujuk pada bentuknya yang persegi panjang seperti balok kecil. Rasa Kue Balok khas Badui cenderung gurih dan sedikit manis, cocok disantap bersama teh hangat.
4. Olahan Ikan dan Sayuran
Lauk-pauk Badui seringkali berasal dari sungai, seperti ikan Mujair atau Nila, yang diolah dengan cara dibakar atau dipepes (dikukus dalam bungkusan daun pisang) dengan bumbu cabai, jahe, dan kunyit seadanya. Sayuran dimasak secara sederhana, seringkali hanya direbus dan dimakan dengan sambal atau garam. Salah satu sambal khas adalah Sambal Goang yang hanya terbuat dari cabai rawit, garam, dan bawang putih/merah yang diulek kasar.
Bumbu Rahasia: Kesegaran Alami
Tidak ada bahan penguat rasa buatan, rasa enak dalam masakan Badui berasal dari kualitas bahan baku yang sangat segar. Contohnya, mereka menggunakan garam laut alami, gula aren murni dari hasil sadapan pohon, dan cabai yang dipetik langsung dari ladang. Kesegaran inilah yang menjadi bumbu rahasia utama.
Selain itu, Badui dikenal memiliki tradisi membuat Madu Odeng (madu hutan) yang dipanen dari hutan secara lestari. Madu ini tidak hanya berfungsi sebagai pemanis alami tetapi juga sebagai suplemen kesehatan.
Kesimpulan: Filosofi di Balik Setiap Suapan
Makanan khas Suku Badui mengajarkan kita tentang filosofi hidup yang bersahaja dan mandiri. Setiap hidangan yang disajikan adalah perwujudan dari hubungan harmonis antara manusia dan alam. Mereka membuktikan bahwa kenikmatan sejati tidak memerlukan kerumitan teknologi atau bahan kimia, melainkan cukup dengan bahan-bahan yang ditawarkan bumi dengan penuh syukur.
Menikmati kuliner Badui bukan hanya tentang memuaskan lidah, tetapi juga menghargai kearifan lokal yang telah dijaga selama berabad-abad.
Mari kita hargai kesederhanaan dan kekayaan rasa autentik dari bumi Kanekes.