Pecinta Ketinggian

Pendakian Ke Mahameru, Ranu Kumbolo #3

5/5 (1)
Artikel sebelumnya:
Pendakian Ke Mahameru, Tanpa Persiapan Fisik #1
Pendakian Ke Mahameru, Ranu Pani #2
@S_Yudhani

Udara pagi begitu dingin menusuk tulang, suara burung cerkicauan dan suara angin berhembus menerpa pintu tenda yang terbuka sedikit. Setelah kurang lebih 8 jam kedinginan didalam tenda, dan kurang lebih 4 jam tertidur pulas, akhirnya jam 5 pagi aku mencoba keluar tenda, bukan untuk melihat sunrise tapi untuk buang air kecil, hehee..

Setelah buang air aku melihat cahaya kemerahan diantara dua bukit di Ranu Kumbolo, ternyata mentari segera keluar menunjukan eksistensinya. Aku segera kembali ketenda dan mengambil HP untuk mengabadikan tiap momen matahari terbit di Ranu Kumbolo, saat masuk tenda ternyata para suhu dan senior sedang tidur nyenyak dan aku tidak berani membangunkannya. Sebelum mentari pagi muncul aku mengambil air danau untuk cuci muka, sekedar menyegarkan muka walau tidak mandi, wkwkwk.. Karena selama pendakian, mandi adalah hal yang aneh dan mewah di Gunung, boro-boro untuk mandi, untuk minum dan masak aja kita harus hemat air. Kecuali kita ngecamp di dekat sumber air, meskipun begitu jangan sekali-kali mandi, buang air di Danau Ranu Kumbolo ataupun mencuci baju, kaki dll langsung kedalam Danau, karena ini dilarang keras bagi Pendaki. Hal ini disebabkan Air Danau Ranu Kumbolo masih disucikan dan di pakai untuk beribadah bagi Umat Agama Hindu dan Kejawen seperti halnya sumur zam-zam bagi Umat Islam di Mekah.

Video Pendakian Mahameru

Sunrise di Ranu Kumbolo

@YusryAizat

Setelah muka terkena air Ranu Kumbolo rasanya meresap ke mata, jiwa dan pikiran ditambah udara pagi yang segar membuat aura positif tubuh meningkat. Udara, air dan suasana alam menjernihkan pikiran dan jiwa yang sempat mati karena kesibukan bekerja mengejar dunia dan kesombonganya. Asseek..

Kamera HP sudah dinyalakan sambil muter-muter lokasi Rakum merekam tiap keindahan sunrise pagi ini, matahari begitu hangat ketika keluar dari balik bukit yang indah. Aku tetep mengabadikan momen ini dengan terus menyalakan kamera mode video dan memfoto tiap sudut pemandangan indah Ranu Kumbolo. Tak terasa sudah 30 menit aku merekam dan muter-muter di seputaran camp area, dan ku lihat senior-senior dan orang-orang di tenda-tenda lainya pada bangun atau keluar untuk menyaksikan momen indah ini. Sesekali aku melihat raut wajah para pendaki yang kebanyakan tersenyum seakan menyapa senyum mentari yang tak pernah padam. Semua pendaki benar-benar terbawa suasana ceria pagi itu di Ranu Kumbolo, dimana terdengar suara canda tawa yang tak pernah berhenti baik di luar tenda maupun di dalam tenda, sungguh pemandangan yang selaras dengan suasana pagi dialam terbuka dengan aktivitas burung-burung yang bernyanyi disela-sela pohon. Setelah puas mengabadikan sunrise aku kembali ke tenda dan melepas jaket untuk sekedar menikmati udara pagi Ranu Kumbolo meskipun dingin, dan bersiap untuk menyiapkan bahan-bahan makanan untuk dimasak.

Masakan Warteg di Ranu kumbolo

Pagi itu setelah menikmati sunrise yang indah, aku dan seniorku berencana untuk memasak dan membagi tugas mengambil air. Dan aku dengan mas wid kebagian tugas mengambil air di ujung sebelah kanan Danau. Mungkin karena sudah kebiasaan Pendaki senior disini jika mengambil air tidak boleh langsung di depan camp mendaki, tapi harus melalui akar-akar pohon yang tumbang supaya kaki dan sisa-sisa air tidak kembali menetes ke Danau. Setelah selesai mengambil air aku kembali ke camp, dimana dari kejahuan camp kita sudah ramai dengan orang-orang.

Ternyata semalam tidak sadar jika di sebrang camp kita sudah ada teman senior-senior yang sudah ngecamp duluan, usut punya usut ternyata teman-teman ini merupakan anggota komunitas pemuda, klo g salah komunitas pemuda Gereja Jawi yang ada di Kota Malang, sontak saja aku ikut terbawa situasi keakraban para senior dan ikut ngobrol bareng. Pada awalnya kita akan memasak mie instan, tapi gak jadi karena di Bully temen-temen dari komunitas tersebut. “Rugi mas, jauh-jauh ke gunung cuman masak mie instan, wkwkwkwk” dan semua ketawa mendengar celetukan itu. “serahkan semua pada mas ini (lupa namanya), koki terbaik di komunitas” kata mas-masnya yang make baju kotak-kotak. Waktu itu aku ikut ngakak dengan candaan para senior yang tiap tahun selalu menyempatkan ke Gunung Semeru ini, aku sih cuman bisa ketawa melihat candaanya, tapi emang bukan isapan jempol ketika mereka semua mengeluarkan peralatan masaknya, mulai dari nasting biasa sampe wajan ada, terus bahan makanan mulai dari telor, sosis, bumbu-bumbu penyedap sayuran hingga ikan asin, cabai, tomat dan terasi tidak luput dari barang bawaannya, dalam hatiku bener-bener niat nih orang-orang klo kegunung. Menurutku mereka semua atau komunitas ini memang sengaja mengagendakan piknik ke semeru setiap tahun saat Libur Lebaran, dimana kondisinya bener-bener sepi dari Pendaki.

Seperti biasanya karena aku pendaki noob dan pemula aku hanya bisa menyaksikan dan mengabadikan dengan foto ketika senior-senior ini memasak. Dan sesekali membantu dengan mengambilkan air, tapi kebanyakan bengong didepan orang memasak sambil menelan ludah karena sudah lapar, hehehee..

Hal yang membuat senior-senior ini menjadi pusat perhatian adalah ketika menggoreng ikan asin, aromanya begitu menyengat dan membuat insting kuliner jawa atau warteg dalam perut meronta-ronta untuk makan, wkwkwk.. Karena aroma yang khas masakan jawa / tegal itulah banyak pendaki yang menghampiri dan melihat sambil ketawa melihat koki senior menggoreng. Selain itu ada juga yang bagian membuat sambal trasi khas jawa timuran. Bener-bener menggoda selera, dan hal yang paling dikangenin ketika kita naik gunung adalah masakan seperti ini yang disajikan oleh Ibu kita dirumah.

Setelah sekian jam menyaksikan show memasak koki terbaik di komunitas, akhirnya masakan yang ditunggu-tunggu telah matang dan siap untuk disajikan, semua berkumpul dan mempersiapkan diri. Sebelumnya aku yang pegang HP langsung mengabadikan proses makanan ala prasmanan Warung Tegal ini, bedanya cuman tidak ada kaca touch screen tapi langsung ambil sesuai selera dan tidak lupa jangan kebanyakan karena pesertanya banyak, hehehee..

Melanjutkan Perjalanan Ke Kali Mati Melalui Tanjakan Cinta

Selesai makan bersama, kami semua langsung berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan. Melipat tenda dan membersihkan sisa-sisa makanan serta sampah yang berserakan di sekitar camp. Waktu itu kita merupakan rombongan terakhir yang berkemas-kemas karena semua sudah bergegas melanjutkan perjalanan. Aku melihat jam di hp masih jam 9.00 tapi Rakum sudah mulai sepi, mungkin perjalanan pagi lebih sejuk dan nyaman daripada harus jalan siang dibawah terik matahari.

Setelah selesai berkemas dan siap berangkat kami semua rombongan yang makan bersama melakukan perpisahan dan bersalam-salaman dengan berfoto berlatar belakang tanjakan Cinta, so sweet.. meskipun semua laki2, wkwkwkwk..

Ternyata sernior-senior tadi yang masak sudah sehari yang lalu ngetrek ke puncak, dan menginfokan jika mereka tidak dapat melihat sunrise karena Puncak berkabut, dan mereka akhirnya turun langsung ke Ranu Kumbolo. Setelah selesai berfoto bersama akhirnya kita mengucapkan salam perpisahan, “sampai jumpa di Malang Brooo..”

Sekitar jam 10an pagi kita berlima melanjutkan perjalanan ke Kali Mati melalui trek pertama yakni Tanjakan Cinta yang legendaris. Sepintas tanjakan ini terlihat landai dan tidak terlalu tinggi, sehingga terbesit di pikiran meremehkan tanjakan cinta ini. Menurut info difilm 5 cm, dari Pendaki lain dan dari warga sekitar jika naik tanjakan cinta dengan fokus kepada orang terkasih tanpa menoleh kebelakang sampai puncak maka cintanya akan bersambut postitip, mitosnya begitu, tapi g tau bagi yang jomblo seperti aku waktu itu, wkwkwkwk.. sing penting yakin..!!!

tanjakan tjinta

Setapak demi setapak aku melangkahkan kaki melewati tanjakan cinta sambil menunduk, detik demi detik aku tetap menunduk dan sesekali melihat ke depan melihat senior-senior yang sudah duluan, deru nafas kian berat dan tersengal-sengal. Hingga dalam hati mengatakan, “kok belum sampe-sampe yak..” ternyata trek tanjakan cinta tidak semudah yang terlihat, ketika kita menjalaninya dengan serius benar-benar terasa tinggi dan jauh, aku sempat berhenti tiga kali untuk menyeka keringat dan mengatur nafas, sambil berkata dalam hati, “cinta emang butuh pengorbanan, tidak semudah yang terlihat” Assseeek, hehehee… “deritanya tiada akhir” wkwkwk..

Mungkin juga karena terik mentari yang menyengat membuat tanjakan cinta semakin berat dilalui, sungguh diluar ekspektasi. Terlihat muda tapi berat ketika dijalani.

Meskipun kita sampai di atas tanjakan cinta dengan selamat dan ngos-ngosan tapi pengalaman ini benar-benar tidak terlupakan, kita berlima sempat berhenti sejenak untuk mengatur nafas dan melihat Ranu Kumbolo dari atas Tanjakan Cinta. Sungguh indah ciptaan Ilahi.

Dan Mas Bar menawari, “mau foto disini gak?” aku menjawab, “nggak ah mas capek, males ngluarin hp lagi”. Hal ini menjadi pelajaran jika kemanapun pergi dan perginya ketempat itu seumur hidup sekali usahakan untuk mengabadikan tiap momen bersejarah itu, karena jangan sampai menyesal dikemudian hari seperti aku. hehehee.. Sudah pernah ke Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Lombok, Bima dan Labuan Bajo tapi sedikit sekali Foto Dokumentasinya karena alasan tadi, malas dan capek. Akhirnya setelah bertahun-tahun dirumah ketika buka file foto, menggerututu, “ngapain dulu g foto dan videoin di tempat ini yah blablabla..”

Bersambung ke… pendakian ke mahameru menuju kali mati 4

Nilai Kualitas Konten

Related posts

No Copy, Yes Coffee !!!