Pecinta Ketinggian

Pendakian Ke Mahameru, Menuju Kali Mati #4

Artikel sebelumnya:
Pendakian Ke Mahameru, Tanpa Persiapan Fisik #1
Pendakian Ke Mahameru, Ranu Pani #2
Pendakian Ke Mahameru, Ranu Kumbolo #3

Setelah beristirahat di atas Bukit Tanjakan Cinta, kita segera melanjutkan perjalanan menuju Kali Mati, sebelum sampai Kali Mati kita melewati beberapa Pos yakni Oro-oro Ombo, Cemoro Kandang, Jambangan dan terakhir Kali Mati (Batas Pendakian Gunung Semeru).

Menuju Cemoro Kandang

Sebelum Menuju Oro-oro Ombo

Saat menuju cemoro kandang kita sempat berfoto sejenak diatas bukit kecil sebelum turun dan melewati lembah atau taman Bunga Lavender. Dari atas bukit ini terlihat Indah sekali Puncak Mahameru, bukit savana, Hutan Pinus atau Cemara dan hamparan luas taman Bunga Lavender tepat dibawah bukit. Setelah selesai berfoto-foto dibukit kita berlima langsung bergegas menuruni jalan setapak menuju taman Bunga Lavender. Taman bunga ini merupakan hamparan luas Bunga Lavender dan terdapat jalan setapak di tengah-tengahnya seperti di film-film Bollywood, wkwkwk..

otw

Ketika melewati jalan setapak di antara tanaman bunga Lavender ini kita juga menyempatkan berfoto, karena keindahanya sangat memanjakan mata yang melihat dan melewati. Bunga-bunga ini dibiarkan tumbuh berkembang dan jangan sekali-kali memetik bunga ini karena Pendaki Gunung dan Pecinta Alam sejati mengharamkan memetik apalagi merusak keindahan alam.

Setelah melewati taman Bunga Lavender kita sampai di Pos Cemoro Kandang, membutuhkan waktu lebih kurang 30 menit dari bukit tanjakan cinta ke sini. Hal yang unik di Pos ini adalah ada penjual minuman dan makanan ringan, sempat kaget juga karena menurutku niat banget sampai ada penjual di atas Gunung. Meskipun begitu ada pendaki yang membeli dan beristirahat di Pos Cemoro Kandang ini.

Kami menyempatkan untuk beristirahat sejenak di Pos ini, karena disini merupakan hutan pinus yang rindang ditambah semilir angin sepoi-sepoi membuat rasa ngantuk menghampiri, pokoknya sejuk bangetlah setelah berpanas-panasan melewati taman Lavender. Oiya menurut Pendaki-pendaki dan cerita masyarakat disini, jika taman Lavender ini merupakan Pasar Ghaibnya Gunung Semeru, percaya atau tidak dikembalikan pada diri kita pribadi. Hal yang terpenting jaga sikap, niat dan hati selama mendaki Gunung.

Kanan Kiri Bunga Lavender

Kita berlima sempat beristirahat lama disini karena setelah Cemoro Kandang menuju Jambangan treknya lumayan berat, karena naik dan sangat melelahkan, kurang lebih kemiringanya 20-45 drajat. Treknya berat meskipun tak seberat jomblo merindukan kekasih, wkwkwk..

Buah Ciplukan di Jalur Cemoro Kandang

Oro-oro ombo dilihat dari Cemoro Kandang

Angin sepoi-sepoi di Cemoro Kandang membuat kita berlima terlena sejenak dengan kesejukan udara pendakian saat merasakan panasnya pendakian di siang hari. Setelah menikmati sejuknya angin cemoro Kandang kita segera bergegas menuju Pos Jambangan, trek yang dilalui sepanjang jalan menuju Jambangan kebanyakan menanjak dan berkelok-kelok, banyak pohon pinus besar-besar dikanan dan kiri. Saat semua fokus menyusuri perjalanan setapak yang menanjak ini sesekali Mas Eko yang paham jalur ini membuka semak-semak di kanan kiri jalan setapak. Ternyata Mas Eko sedang mencari buah yang sangat disukai anak-anak di kampungku ketika era 90an kebawah, yakni buah Ciplukan atau Tanaman bernama latin Physalis angulata dan Physalis minima. Orang barat menyebutnya morel berry, orang Sunda menyebut cecendet, sedangkan di Madura bernama yor-yoran, lain lagi di Bali, buah ini bernama keceplokan.

Tanaman dan Buah Ciplukan by: harapanrakyat.com

Buah ini tumbuh subur ketika musim hujan di jalur Pendakian Semeru Pos Cemoro Kandang, dikanan dan kiri jalan setapak diantara semak-semak. Menurut buku Ragam dan Khasiat Tanaman Obat (2008) oleh Hieronymus Budi Santoso, tanaman ciplukan memiliki zat yang bermanfaat untuk kesehatan (kompas.com). Antara lain:

  • Buah: mengandung vitamin C, asam sitrus, fisalin, zat gula, tanin, kriptoxantin, asam malat, dan alkaloid
  • Akar dan batang: mengandung saponin dan flavonoid
  • Daun: mengandung polifenol dan asam klorogenat
  • Biji: mengandung asam elaidik Deretan zat dan senyawa dari kandungan ciplukan tersebut membuat tanaman ini dipercaya dapat mengatasi berbagai gangguan kesehatan.

Berikut beberapa khasiat atau manfaat ciplukan untuk kesehatan:

1. Hipertensi Ekstrak ciplukan dapat dimanfaatkan untuk mengatasi tekanan darah tinggi (hipertensi). 2. Diabetes Untuk mengobati kencing manis 3. Bisul 4. Gatal-gatal 4. Gusi berdarah Kandungan vitamin C dalam buah ciplukan digunakan untuk mengatasi gusi berdarah 6. Batu ginjal

Ternyata Buah Ciplukan yang dulu disebut sebagai buah orang kampung dan orang desa ini memiliki banyak manfaat, apalagi ketika mendaki Gunung bermanfaat untuk meningkatkan Anti Body dan kekebalan Tubuh, karena selama mendaki Gunung tubuh mengalami adaptasi terhadap cuaca Dingin. Tidak jarang banyak yang mengalami flu ataupun demam selama pendakian. Dan buah ciplukan ini merupakan berkah dari Tuhan untuk Para Pendaki Gunung Semeru, dan beruntunglah kita saat menemukan buah ini. Aku saja sempat dikasih Mas Eko sebutir ketika itu, dan terakhir kali makan buah ini ketika SD dulu, ternyata buahnya tidak punah. wkwkwk..

Pos Jambangan dan Kali Mati

Menuju Jambangan

Setelah kurang lebih Dua Jam melakukan perjalanan menanjak akhirnya kami berlima sampai di jalur mendatar. Jalur ini merupakan jalur kawasan Pos Jambangan, jalanya datar seperti jalan menuju ke Kebun Duren di Pedesaan, dimana banyak Pohon, rumput, semak-semak dan banyak di tumbuhi dengan Bunga Edelweiss yang hanya ada di Pegunungan. Di Pos Jambangan ini kita sudah bisa melihat Puncak Mahameru dengan sangat jelas jika tidak tertutup Awan atau Kabut. Di area jambangan ini kita berlima juga jarang beristirahat karena jalanya sudah tidak menanjak, hanya saja sedikit licin karena lumpur dan bekas air hujan yang mengendap di jalan-jalan setapak.

Mahameru dilihat dari Jambangan

Setelah kurang lebih satu jam dari Pos Jambangan akhirnya kita berlima sampai pada sabana rumput yang terbuka dan tidak ditumbuhi banyak pohon pinus. Dan inilah yang dinamakan Kali Mati, seketika itu kita berlima langsung terfokus untuk menuju ke bekas Bangunan Pos seperti di Ranu Kumbolo yang sudah tidak dipergunakan lagi. Setelah sampai di bangunan yang mirip Pos ini ternyata tempatnya begitu Kotor, banyak tumpukan sampah bekas dari para Pendaki yang tidak bertanggung Jawab, saat itu ada lebih dari dua tumpukan sampah yang dibiarkan menggunung seperti material pasir dirumah.

Jambangan Menuju Kali Mati

Sangat disayangkan, Gunung Semeru yang eksotis dan sangat di Sakralkan oleh Umat Hindu dan Kejawen harus dikotori oleh segelintir manusia-manusia tidak beradab. Pesan penulis ketika anda Mendaki Gunung, khususnya Gunung Semeru dan umumnya dimanapun kalian berada jangan nyampah dan mengotori tempat-tempat umum seperti disini. Karena di indonesia bukan saja darurat Narkoba tapi juga Darurat Sampah.

Akhirnya kita menjauh dari tumpukan-tumpukan sampah dan bekas Pos tersebut dan mencari tempat lain yang dekat dengan pepohonan untuk mendirikan tenda. Kita berlima memilih mendirikan tenda di dekat pepohonan karena di Kali Mati ini Anginya sangat kencang apalagi ketika malam hari. Disini kita berlima bermalam, saat itu jam di HP menunjukan pukul 12.30. Kita berlima segera membagi tugas, Mas Eko dan Mas Purbo mendirikan tenda. Aku, Mas Wid dan Mas Bar mencari air, dari kalimati menuju sumber air yang bernama Sumber Mani lumayan jauh sekitar 500 Meteran, kita bertiga melewati jalan setapak dan menuruni lembah menuju aliran sungai yang mengering, mungkin ini yang dinamakan Kali Mati.

Camp Area Kali Mati by: indonesiatanahairkudotcom.wordpress.com

Saat sampai di jalur sungai yang sudah tidak berair ini aku memandang tebing-tebing dikanan kiri sungai atau kali, ternyata tinggi sekali tebingnya dan diatas banyak pohon yang akarnya sampai kelihatan di lipatan tebing-tebing dikanan dan kiri. Dari aliran sungai atau lebih mirip disebut dengan jalur lahar dingin itu kita bertiga terus berjalan lagi turun menyusuri sungai kering ini, hingga ketemu dinding tebing yang mengeluarkan tetesan air dan ternyata sumber-sumber air kecil yang menetes. Tetesan dan aliran air ini ada yang tertampung di bak alami dari Batu Cadas dan ada juga yang mengalir langsung menuju tanah. Dari tetesan air itulah kita bertiga megumpulkan air di botol bekas. Dan air disini hanya cukup untuk cuci muka, minum dan tidak cukup untuk mandi karena aliran sumbernya yang kecil. Dan Sudah dua hari kita semua tidak mandi, hanya cuci muka wkwkwk..

Jalan menuju mata air Sumber Mani by: rosihanf.blogspot.com

Setelah botol air penuh semua, kita bertiga segera bergegas untuk kembali ke Tenda karena perut sudah keroncongan utuk memask Mie Instant, pokoknya hidup mati di Gunung Mie instan, coba klik linknya ternyata mie instan sudah dijelasin wikipedia. hehehee..

Di Kalimati inilah kita melakukan aktivitas seperti biasa seperti di Ranu Kumbolo hingga senja tiba dan berganti malam, bedanya sumber air so jauhh, wkwkwk.. Waktu disini benar-benar dimanfaatkan untuk makan, ngobrol dan beristirahat, karena malam nanti atau dini hari sekitar pukul 01.00 perjalanan sesungguhnya akan dimulai, yakni menggapai puncak tertinggi di Pulau Jawa.

Bersambung…

Artikel berikutnya: Pendakian Ke Mahameru, Beratnya Menuju Puncak #5
videonya

#jangannyampahdigunung

Related posts

Pendakian Ke Mahameru, Ranu Kumbolo #3

Rud

Pendakian Ke Mahameru, Tanpa Persiapan Fisik #1

Rud

Pendakian Ke Mahameru, Ranu Pani #2

Rud

1 comment

Pendakian Ke Mahameru, Beratnya Menuju Puncak #5 - Jejak Kaki May 19, 2020 at 3:58 pm

[…] Pendakian Ke Mahameru, Menuju Kali Mati #4 […]

Reply

Leave a Comment

No Copy, Yess Coffee !!!