Jejak Kaki

Cerita Awal untuk Lebih Mencintai Indonesia

Oiya.. sebelum menceritakan pengalaman dan perjalanan lainya aku akan memberikan info kepada pembaca bahwasanya penulis di jejakpejalankaki.com ada dua orang, yakni Kak Apriel Mendrofa dan aku sendiri sebut saja Rud, hahahaa.. supaya gak salah paham pembahasan nya ku critakan sedikit bekgron masing-masing penulis. Kak April, beliau adalah Karyawan swasta yang terlahir di Pulau Nias dan bekerja sebagai akuntan yang sangat konsisten mulai aku pertama ketemu sampai saat tulisan ini dibuat, beliau ini tinggal dan bekerja di kota Jakarta jadi keseharianya berlogat betawi. Terkadang tulisanya menggunakan ejaan betawi yang belum disempurnahkan 😀 terkadang memakai kata elo, gue atau maen, senen de el el. Sedangkan aku disini sebagai seorang penulis juga (aseeek..) yang penting nulis di web sendiri gpp kaaan… hahaha.

Aku duduk di sebelah kiri mengacungkan genggaman tangan

Aku asli dari Kota Malang dan jaman dulu kala pernah satu kerja dengan kak April, sekitar tahun 2008 an karena sudah jenuh, bosan dan lelah dengan rutinitas hidup di Ibukota, akhirnya gue ehhh aku Resign dari kerjaan. Alasanya pada bos sih pingin kuliah lagi, hehee. Padahal gak ada biaya, sebenernya sudah pada titik tertinggi kejenuhan dengan macetnya ibukota dan ingin menikmati masa muda dengan jalan-jalan sambil kerja (asseeeek). Dan sepintas logat penulisan kak April dan gue eh aku juga beda, klo aku logat kejawen dan ketimuran sedikit menjunjung tinggi sportifitas, eh maksudnya menjunjung tinggi nilai kesopanan dan kesusilaan adat ketimuran sesuai dengan pengalaman P4 Pancasila jaman sekolah SD dlu.

Oke itu saja sekelumit cerita dan biodata penulis-penulis jejakpejalankaki.com semoga tetap konsisten memberikan pengalaman pribadi selama perjalanan ataupun menjalani kehidupan di Negri yang Indah ini, Garuda Nusantara Jaya Indonesia Merdeka..!!!

Awal Cerita

Cerita ini dimulai saat bekerja di Radar Mojokerto (Jawa Pos Grup) pertengahan tahun 2011, hal ini karena keseringan membaca koran dan buku sejarah kayak jaman sekolah dulu, hehehee.. Dulu masa sekolah males baca sekarang rajin baca dan banyak mengkoleksi buku-buku, so aku jadi tahu betapa hebatnya nenek moyang Bangsa Indonesia. Hingga suatu saat terlintas dipikiran ingin pergi mengunjungi tiap jengkal kepulauan Nusantara, apalagi setelah melihat tayangan di televisi swasta yang berjudul 100 Hari Keliling Nusantara. (Gilaa maaaan… kereeeen sumpah..) Setelah hampir 6 bulan bekerja di media, akhirnya aku memutuskan untuk keluar dan mendirikan usaha sendiri, hal ini karena aku selalu dipanas-panasi untuk berwirausaha mengikuti jejak dari karyawan lain di kantor. Terutama Pak Didit Alm.

Terimakasih untuk P Didit Alm. yang dudk di sebelah kanan no. 3

Jejak pejalan kaki

Setelah keluar kerja dari Radar Mojokerto aku mencoba membuka usaha pertamaku, yakni pencucian sepeda motor. Meskipun terlihat remeh tapi dibalik usaha ini Tuhan memberikan pelajaran berharga kepada ku.

Ketika membuka usaha cucian sepeda motor ini aku memberanikan diri untuk meminjam modal dari Bank (saat itu belum paham riba’). Setelah sebulan berjalan, usaha ini berjalan sesuai dengan rencana dan berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan dan rintangan yang menghadang, tapi keuangan masih belum bisa menutupi biaya operasional. Ketika bulan ke dua dan ke tiga biaya operasional dan cicilan bank masih belum tertutup juga. Pada akhirnya aku memutuskan untuk bekerja kembali demi menutupi cicilan per bulan di bank, karena kreatifitasku di usaha ini terhalang dengan perjanjian sewa lahan. Menurutku supaya cucian ini bisa berjalan dengan lancar harus ada usaha pendukung yang bisa melengkapi, yakni jualan makanan dan minuman ringan. Akan tetapi karena aku tidak teliti dalam membaca surat perjanjian maka hal tersebut tidak dapat dilakukan, karena dalam perjanjian tersebut, pihak ke 2 yakni aku sendiri, hanya bisa menjalankan satu jenis usaha, dan tidak boleh membuka usaha lain selain yang disebutkan dalam perjanjian tersebut. Dan pada akhirnya untuk pilihan terakhir usaha ini ku serahkan pada teman seperjuangan. Walaupun tiga bulan kedepan setelah dihandle teman seperjuanganku, alhamdulillah akhirnya dia menyerah dan memutuskan mundur. Sehingga dengan terpaksa aku menutup usaha pertamaku ini dan menyisahkan cicilan hutang per bulan di bank. So gue eeh aku harus bertahan selama 3 tahun bekerja ikut orang lagi demi cita-cita yang mulia ini (nyicil utang), wkwkwwkwk..

Melamar Pekerjaan

Setelah melamar pekerjaan kesana-kemari akhirnya aku ketrima di perusahaan pengeboran batu bara yang berkantor di Jakarta (yeaaaaay…), bertepatan sehari setelah tahun baru aku disuruh berangkat ke jakarta untuk bekerja. Singkat cerita, setelah sampai di kantor Jakarta aku mendapat penempatan tugas ke kota Samarinda Kalimantan Timur, yessss…!!! Disinilah dimulai perjalananku keluar Pulau Jawa, aku masih ingat saat itu bener-bener senang karena pertama kali pergi ke luar Jawa dan mendapat uang transport lumayan besar dari pekerjaan sebelumnya. Setelah naik pesawat kurang lebih 2 jam, akhirnya sampai di Bandara Sepinggan Balikpapan, pertama kali lihat kota Balikpapan sungguh bagus penataan kotanya, bersih dan tertata serta tidak kumuh ataupun semrawut(alasan formalitas) sebenernya sih yang gue eh aku lihat cewek-ceweknya, cantik-cantik braaaaay, hahaha… kok bisa cantik gitu ya, jadi kebayang2 ngantor di Balikpapan. Dan perjalanan dimulai lagi menuju kota Samarinda. Setelah dua jam melewati jalan trans kaltim, akhirnya sampai di pinggiran kota Samarinda tepatnya di daerah Loa Janan. Bayanganku saat itu aku mendapat fasilitas mess dan tempat tidur yang bagus, karena ini berbau perusahaan batu bara. Keren dach..

Jejak pejalan kaki

Setelah satu jam menunggu penjemputan ke site pengeboran, akhirnya mobil Strada single kabin datang dan mulailah perjalananku menelusuri pedalaman hutan Kalimantan Timur. Saat perjalanan, mobil yang ku tumpangi berjalan menyusuri tepian sungai Mahakam, dikanan dan kirinya banyak terdapat rumah penduduk sekitar. Tiba-tiba terdengar suaraaa aaauuuuuuu… dan ternyata gue eh aku salah ketik crita maaan, kirain crita horor hehehee… oke kembali keleptop. Dan sampailah ke pintu gerbang yang bertuliskan Safety Area Confeyor, ternyata mobil sudah memasuki area tambang, hal ini bisa dilihat perbedaan jalan yang dilalui, semula jalan beraspal penuh lubang, tapi setelah itu jalanya penuh dengan batu koral. Pokoknya kita didalam mobil seperti sedang berekspedisi kepulau terpencil, kayak di pilem-pilem kolosal gitu, hehehee.. Terlihat dikanan kiri hanya hamparan hutan di selingi gelapnya malam. Setelah satu jam perjalanan akhirnya sampai di tempat yang penuh dengan lampu-lampu terang, dan disinilah tempat aktivitas penambangan batu bara, dimana aktivitasnya tiada henti selama 24 jam, berhenti ketika hujan deras datang dan berhenti ketika ada accident.  Dan hal yang menarik disini, pertama kalinya aku melihat truk yang bannya setinggi pilem gogel jamanku kecil maaan… trus truknya tinggi kayak robot power renjes pilem jaman kecilku dulu juga. Aku juga melihat batu bara yang beroksidasi dengan udara sehingga mengeluarkan banyak asap. Bener-bener pengalaman baru bagiku.

Jalan Masuk Lokasi Tambang

Sampai di Mess Karyawan

Setelah menempuh perjalanan kebarat kurang lebih dua jam, hehehee.. dari tepian kota Samarinda ke site pertambangan, akhirnya perjalanan terhenti di sebuah bangunan berwarna biru semi permanen, dimana lokasi ini tepat di depanya area pertambangan dan dibelakang sebuah hutan yang masih hijau alami. Dan aku baru mengerti jika bangunan yang berwarna biru ini adalah mess tempat tinggal kayawan persahaan pengeboran yang beromset milyaran rupiah. Saya sempat shock dan kaget, karena diluar bayangan awal dan ekspektasi. Setahuku perusahaan yang menyangkut tambang batu bara pasti berfasilitas mewah dan memiliki fasilitas tambahan untuk kesejahteraan karyawan, hal yang aku bayangkan diawal ternyata bertolak belakang. Karena semuanya disini hidup serba Cowboy, istilah punk-nya nyetreet. Mungkin jika dianalogikan kehidupan disini seperti orang yang lagi camping ke gunung. Oke gak masalah life must go on, anggap saja kita lagi latihan tanteeee… hehehee… untungnya masa-masa muda dan sekolah dulu sering ikut persami dan kemping, jadi tidak kaget hehehee… Perbedaanya hanya pada perabotan dapur dan perlengkapan tidur, disini lebih lengkap dan terjamin makanannya. Tapi walau begitu aku tetap bersyukur karena disinilah awal pembelajaranku mengenai “Indonesia”

Lokasi di Depan Mess, di Sebrang jauh sana Mess Client
Akses Jalan pengeboran, Offroad sudah menjadi hal biasa, apalagi jika hujan deras, Mantab Jiwa

Jejak pejalan kaki

Hikmah dan Pembelajaran

Dan pada akhirnya aku berkesimpulan, ditempat kerja yang baru ini lah aku mendapat pengalaman baru dan teman baru seperantauan dari Jawa, Sumatra, Sunda, Bima dan Sulawesi. Disinilah aku belajar untuk lebih mencintai Indonesia karena perbedaan agama, warna kulit, bahasa dan budaya. Terkadang kita dibuat terpesona dengan keindahan alam, kekayaan alam yang melimpah, dan keramahan serta keunikan penghuni Nusantara yang luas ini, khususnya orang-orang dan teman baru dipekerjaan ini. Dan yang pasti pekerjaan keseharianku lebih nyantai dibanding pekerjaan di Radar 6 bulan yang lalu, disini pekerjaan satu minggu bisa dirapel dalam 2hari saja dan sisa 5 hari itulah, aku memanfaatkan waktu untuk pergi jalan-jalan mendaki gunung, lewatin lembah sungai mengalir indah kesamudra, bersama teman seperjuangan (kayak lagu ninja hatori, wkwkwkwk..)

Dan tak lupa melihat kota Samarinda, menikmati makanan khasnya, menelusuri tiap sudut kotanya dan terkadang bermain futsal atau sekedar menikmati senja di tepian Sungai dan Jembatan Mahakam. Terkadang juga jalan-jalan di mall, nyari gebetan tapi gak dapet-dapet, wkwkwwkwk…

Menikmati Senja di Tepian Sungai Mahakam berlatar belakang Jembatan Mahakam
Jalan-jalan ke Islamic Centre Samarinda
Lumayan kemana-mana dianter, sekalian Jalan-jalan di Kota Samarinda, tapi jalan-jalan Samarifka yang belum 😀
Anggap saja mobil pribadi braaay..
Di dalam Stadion Segiri Samarinda

Jejak pejalan kaki

Tidak selamanya sisi Negatif pekerjaan selalu memberikan hal negatif juga, disini aku bisa mengambil hikmah bahwa pekerjaan ternyata ada yang enak juga, sesuai bayanganku satu tahun yang lalu tepatnya tahun 2011 ketika belum diterima di Radar Mojokerto, tapi masih bekerja di Garment kota Malang, dimana pekerjaanya “mengejar” mesin bordir yang membuat pusing kepala dan ketidaknyamanan hidup. Saat itu aku membayangkan dan memimpikan “kayaknya enak jika bekerja saat selesai bangun tidur, ruang kerja dikamar dan tidak usah capek-capek pergi kekantor atau ketemu bos” bisa jadi harapan dan doamu hari ini akan menjadi kenyataan seperti yang kujalani saat itu.

Dan bayangan pekerjaanku ini tanpa sadar sudah tersirat dari editan foto saat aku masih bekerja di Radar tahun 2011an, dan tak sengaja akan tetapi hal ini menjadi kenyataan, karena aku benar-benar bisa gondrongin rambut mirip-mirip jim morrison, hehehee…

Apa yang kita harapkan dan cita-citakan akan menjadi kenyataan jika itu baik bagi kita dan tidak merugikan orang lain atau diri sendiri.

Rud, 010818

Aku juga menulis sajak-sajak ketika di Samarinda, salah satunya dibawah ini:

Cerita 1 hari 1 malam

Beribu kata sayang
Membelai semangatku yang hilang
Terinjak sebuah mata ikan bau amis
Diantara jari tengah dan jari manis
Apakah makna luka derita
Jika diakhiri dengan canda tawa

Ku melihat sebuah lintasan perbatasan
Diantara anak-anak yang bermain bola ditepian
Mengejar impian demi masa depan
Menendang jauh-jauh sebuah kesenangan
Bersama kawan yang selalu menjaga pertahanan

Ku berjalan melintasi jembatan Mahakam
Disana kulihat banyak anak kecil tak berseragam
Menjajakan lembaran Koran-koran
Bermain ditengah mobil-mobil mewah
Dan menghibur diri jika putus asa

Perjalanan ini tak sendiri
Banyak teman dan sahabat meneriaki
Memberi harapan agar lebih berarti
Dan sesama perantau harus saling berbagi
Saling menjaga dan saling melindungi
Jangan sampai menjual harga diri
Untuk sebuah kebahagiaan yang belum pasti

Kemana kaki harus melangkah
Ketika sampai disimpang tiga
Persimpangan tak tentu arah
Bertabur wanita-wanita penggoda
Wanita yang mengaku gadis tapi slalu menjanda
Dan berharap untuk slalu bahagia
Dengan pelukan tiap pria gagah pelangganya
Selama masih memiliki banyak rupiah

Hari semakin gelap
Mentari kian tertidur lelap
Ku melanjutkan perjalanan
Perjalanan panjang sebuah pengabdian
Diantara tambang-tambang dan perahu-perahu ditepian
Hingga langkahku terhenti dijalanan
Terhenti dalam sebuah ketimpangan
Dan ku dapati seorang teman
Melamun dan berkata-kata sendirian
Sendiri bersama nyanyian kerinduan
Merindukan kekasih yang tak kunjung datang
Setelah sekian lama dilupakan
Dan ku mencoba tuk memberikan senyuman
Senyum diantara kebahagian dan kesendirianya
Agar dia kembali tertawa bahagia
Menyusun kembali puing-puing cintanya

Ku berharap pada Ilahi
Semoga perjalanan singkat ini lebih berarti
Untuk semua yang terkasih
Dan untuk semua yang disayangi

Samarinda, 310312

Related posts

Menyambut dan Merayakan Tahun Baru 2019 – Dari Bromo Langsung tik-tok Gunung Panderman

Rud

Bekerja di Pengeboran Batu Bara Site Kalimantan Timur

Rud

Menyambut dan Merayakan Tahun Baru 2019 Gunung Bromo (Reuni kecil-kecilan)

Rud

1 comment

Bekerja di Pengeboran Batu Bara Site Kalimantan Timur | Jejak Pejalan Kaki September 1, 2018 at 12:38 pm

[…] sebelumnya Cerita awal untuk lebih mencintai Indonesia aku pernah menulis mengenai perjalanan ketika pertama kali bekerja di pengeboran batu bara. Cerita […]

Reply

Leave a Comment