Sungai Brantas: Urat Nadi Peradaban Jawa Timur dari Masa ke Masa


Sungai Brantas adalah sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa, dan bisa dibilang merupakan sungai paling vital di Jawa Timur. Aliran airnya yang berkelok-kelok melintasi belasan kabupaten dan kota, tidak hanya berfungsi sebagai sumber daya alam, tetapi juga sebagai saksi bisu, urat nadi, dan panggung utama bagi sejarah peradaban besar yang pernah berdiri di tanah Jawa Timur. Memahami sejarah Brantas berarti menyelami akar kebudayaan, politik, dan ekonomi yang membentuk wilayah ini hingga hari ini.

By: rri.co.id

Kelahiran dan Bentang Alam Sungai Brantas

Sungai Brantas memiliki hulu yang istimewa, yaitu di lereng Gunung Arjuno dan Gunung Kawi, dekat Kota Batu. Dengan panjang total sekitar 320 kilometer, sungai ini mengalir membentuk pola tapal kuda yang unik, membelah wilayah Jawa Timur menjadi dua bagian besar sebelum akhirnya bermuara di Selat Madura melalui dua cabang utama di Surabaya dan Sidoarjo, yaitu Kali Mas dan Kali Porong.

Secara geologis, keberadaan Brantas sangat dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik dari deretan gunung berapi di sekitarnya. Material vulkanik yang kaya membuat tanah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Brantas menjadi sangat subur, sebuah faktor krusial yang menentukan perkembangan pertanian dan populasi sejak zaman kuno.


Brantas di Panggung Kerajaan Kuno

Peran Brantas sebagai pusat peradaban sudah tercatat sejak era kerajaan Hindu-Buddha. Sebagian besar pusat kekuasaan kerajaan besar di Jawa Timur, mulai dari zaman Kerajaan Kanjuruhan (abad ke-8) hingga Kerajaan Majapahit (abad ke-13 hingga ke-15), selalu didirikan di dekat atau sepanjang aliran Sungai Brantas.

1. Era Mpu Sindok dan Pemindahan Pusat Kerajaan

Pada abad ke-10, ketika Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah mengalami kemunduran, Mpu Sindok memindahkan pusat kekuasaan ke Jawa Timur dan mendirikan Dinasti Isyana. Keputusan ini tidak terlepas dari peran Brantas. Mpu Sindok memanfaatkan Brantas sebagai sarana transportasi utama, penghubung antar wilayah, dan basis pertanian yang kuat untuk mendukung ibu kota kerajaan yang baru.

2. Inspirasi dan Kehidupan di Majapahit

Di era keemasan Majapahit (sekitar Trowulan, Mojokerto), Brantas mencapai puncak perannya. Sungai ini menjadi jalur perdagangan maritim dan pedalaman yang sangat sibuk. Kapal-kapal dagang mengangkut rempah-rempah, hasil bumi, dan barang-barang mewah. Sistem irigasi Majapahit yang canggih juga sangat bergantung pada aliran Brantas, memastikan pasokan pangan yang melimpah dan mendukung populasi besar ibu kota. Para ahli sejarah percaya bahwa kemakmuran Majapahit tidak akan mungkin tercapai tanpa kendali dan pemanfaatan optimal dari Sungai Brantas.


Brantas di Masa Kolonial dan Modern

Memasuki masa kolonial Belanda, Sungai Brantas tetap mempertahankan statusnya sebagai aset ekonomi strategis. Pemerintah kolonial mulai membangun infrastruktur pengendalian banjir dan irigasi yang lebih terstruktur.

Proyek Irigasi dan Pengendalian Bencana

Belanda menyadari pentingnya Brantas bagi perkebunan dan pertanian. Mereka membangun bendungan, saluran irigasi, dan pintu air untuk memaksimalkan hasil pertanian, terutama untuk komoditas ekspor seperti gula. Sejak saat itu pula, studi dan upaya mitigasi terhadap potensi bencana alam yang disebabkan oleh gunung-gunung di hulu, seperti lahar dingin dari Gunung Kelud, mulai digencarkan.

Pasca kemerdekaan, pemerintah Indonesia melanjutkan upaya pengelolaan sungai melalui berbagai proyek raksasa. Dibentuknya Perum Jasa Tirta I (PJT I) secara khusus ditujukan untuk mengelola dan melestarikan DAS Brantas secara terpadu. Proyek pembangunan waduk-waduk besar seperti Waduk Karangkates (Bendungan Sutami) dan Waduk Selorejo menjadi bukti upaya modern untuk mengendalikan banjir, menghasilkan listrik (PLTA), dan menjamin pasokan air irigasi sepanjang tahun.


Peran Brantas Hari Ini: Multifungsi dan Tantangan

Saat ini, Sungai Brantas melayani lebih dari 14 juta penduduk di 14 kabupaten/kota di Jawa Timur. Perannya meluas mencakup:

  • Irigasi: Mengairi ribuan hektar sawah, menjadi tulang punggung produksi beras Jawa Timur.
  • Air Baku: Menyediakan air baku untuk kebutuhan domestik dan industri.
  • Energi: Sumber pembangkit listrik tenaga air.
  • Ekonomi: Mendukung perikanan air tawar dan beberapa sektor industri.

Meskipun demikian, Brantas menghadapi tantangan besar di era modern, terutama masalah pencemaran akibat limbah industri dan rumah tangga, serta sedimentasi yang terus meningkat. Upaya konservasi dan pengelolaan yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk menjaga agar urat nadi peradaban ini tetap sehat dan bermanfaat bagi generasi mendatang.


Kesimpulan: Sungai Brantas, Sumber Kehidupan yang Tak Pernah Kering

Sungai Brantas adalah lebih dari sekadar aliran air; ia adalah kronik hidup Jawa Timur. Dari basis berdirinya kerajaan-kerajaan besar yang makmur hingga menjadi motor penggerak ekonomi modern, Brantas telah memainkan peran sentral dan tak tergantikan. Keberadaannya membentuk pola pemukiman, sistem pertanian, dan bahkan mentalitas masyarakat Jawa Timur. Sejarahnya yang kaya mengajarkan kita pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai fondasi utama dari setiap peradaban yang ingin maju.

Mari kita jaga Sungai Brantas, warisan berharga yang mengalirkan kehidupan dan sejarah!


Apakah Anda ingin saya membahas lebih detail tentang peran Brantas dalam mitigasi bencana lahar Gunung Kelud atau proyek modern Waduk Karangkates?