Pendakian Gunung Lawu 3.265 mdpl ; Jalur Berbatu Dari Awal Sampai Akhir #2

https://jejakpejalankaki.com/wp-content/uploads/2020/10/IMG_2702-1.jpg

Semakin malam semakin banyak pendaki yang meramaikan jalur Pendakian Gunung Lawu, mereka berusaha menggapai camp terdekat dari puncak. Mungkin mereka sudah terbiasa melakukan pendakian malam tapi buat gue yang sadar akan kemampuan masih berpikir ulang untuk mendaki malam, I think kurang safety. 

Keadaan kami semua malam hari itu baik baik saja so far so good, tetap berpikir positif dan menjaga perasaan tetap tenang. Oke lanjut kami akan melakukan pendakian ke puncak tapi baru beberapa meter saja melangkah, salah seorang teman cewek mengundurkan diri karna kondisi fisik nya yang kurang bagus, fix dia kembali ke tenda ditemani dua orang yang harus melewatkan summit mereka.

Pos 2 – Pos 3 – Pos 4

Pendakian Gunung Lawu semakin berat karna trek semakin terjal, tangga berbatu masih setia menemani perjalanan kami. Pepohonan cukup rapat dan ada beberapa ruas jalan yang diberi pegangan agar pendaki tidak kehilangan keseimbangan. Di perjalanan ini kami menyaksikan pergantian gelap ke terang, walaupun sunrise tidak terlihat dengan jelas mungkin karna kami berada diarah yang berbeda dengan matahari terbit.

Pos 4 – Pos 5

Jalur Pendakian Gunung Lawu mulai terbuka, bahkan terlihat lautan awan yang membentang luas. Jalur sudah mulai landai dan bebatuan nya pun rapi, kami melewati sebuah goa yang diberi nama sumur Jolotundo. Di pos 5 ini terdapat warung dan juga camp area.

Pos 5 – Puncak

Dari pos 5 kami memutuskan untuk langsung ke puncak Hargo Dumilah. Dan karna berhenti sesaat di warung untuk menikmati teh hangat dan gorengan panas maka gue tertinggal dari rombongan, again? Jalur menuju puncak tertinggi gunung Lawu ini selain berbatu juga berpasir dan ditumbuhi pohon khas pegunungan.

Berjalan sendirian dijalur kembali memunculkan pikiran pikiran aneh yang harus segera ditepis. Ada beberapa ruas jalan yang bercabang dan tidak ada satu orangpun yang lewat saat itu, setelah menenangkan diri dan fokus terus berjalan ternyata gue berada di jalan yang benar hehe. Akhirnya setelah melewati perjalanan yang panjang ini, gue bisa menggapai PUNCAK.

Jalur pendakian via Cemoro Sewu

Jalur ini memiliki 5 pos pendakian yaitu :

Pos 1 : Wes Wesan

Pos 2 : Watu Gedeg

Pos 3 : Watu Gede

Pos 4 : Watu Kapur

Pos 5 : Jolotundo

Keunikan jalur Cemoro Sewu : Jalur yang berbatu telah menyambut pendaki dari awal perjalanan mulai dari basecamp sampai puncak. Butuh effort yang besar agar tidak mengeluh walau kedua kaki sudah hampir give up. Tapi keuntungan dari jalur berbatu ini adalah kita tidak usah takut nyasar, karna jalur sangat jelas yaitu batu tersusun rapi berupa tangga.

Warung Mbok Yem, Warung Tertinggi Di Pulau Jawa

Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha, perjuangan dari basecamp melewati jalur terjal berbatu akhirnya membuahkan hasil yaitu puncak. Puas sudah pasti tapi jangan sombong, karna diatas ketinggian kita bukan siapa siapa. Diatas ketinggian masih ada yang lebih tinggi. Penuhi hati dengan rasa bersyukur dan nikmati semua hasil dari kerja keras yaitu KEINDAHAN.

Gunung yang masuk dalam 7 summit pulau Jawa ini memiliki tiga puncak yaitu : Puncak Hargo Dalem, Puncak Hargo Dumilah dan Puncak Hargo Dumiling. Dari ketiga puncak ini puncak Hargo Dumilah merupakan puncak tertinggi yang ditandai dengan sebuah tugu batu yang menjulang tinggi. Dan karna gunung Lawu ber-type gunung api istirahat maka di puncak nya tidak terdapat kawah.

Selain terkenal dengan mistis nya, gunung Lawu ini juga terkenal dengan warung Mbok Yem yang konon katanya merupakan warung tertinggi yang ada di pulau Jawa. Pasti semua pendaki yang baru pertama ke gunung ini penasaran dengan warung mbok Yem tersebut. Jadi setelah turun dari puncak kami bergegas menuju warung yang terkenal dengan nasi pecel nya ini. Berjalan sekitar 15 menit dari puncak kami menuju warung mbok Yem yang ternyata bukan satu satunya warung yang ada disini tapi ada beberapa warung lagi yang turut menemani mbok Yem.

Halaman 1 2 3 (Habis)