Bagi sebagian besar pencinta sepak bola, nama Como mungkin dulunya lebih dikenal sebagai sebuah kota wisata yang indah di Italia utara. Danau Como yang dikelilingi pegunungan megah dan vila-vila mewah telah lama menjadi destinasi favorit para selebritas dunia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perhatian dunia tidak lagi hanya tertuju pada keindahan alamnya, melainkan pada klub sepak bola lokal mereka: Como 1907.

Klub yang berbasis di Stadion Giuseppe Sinigaglia ini sedang menjalani salah satu dongeng paling luar biasa dalam sejarah sepak bola modern. Dari klub yang sempat terpuruk di kasta amatir dan dinyatakan bangkrut, Como menjelma menjadi kekuatan baru yang siap menggebrak panggung Serie A Italia. Artikel ini akan membahas perjalanan magis Como 1907, keterlibatan konglomerat Indonesia, hingga proyek ambisius mereka yang memadukan sepak bola, bisnis, dan pariwisata.
Masa-Masa Kelam dan Titik Balik Sejarah
Como 1907 memiliki sejarah panjang yang penuh dengan pasang surut. Didirikan pada tahun 1907, klub ini beberapa kali mencicipi kompetisi kasta tertinggi, Serie A, terutama pada era 1980-an. Namun, memasuki abad ke-21, nasib buruk mulai menimpa klub berjuluk I Lariani ini.
Puncak keterpurukan terjadi pada tahun 2004 dan berulang pada 2016, ketika klub secara resmi dinyatakan bangkrut karena terlilit masalah keuangan yang akut. Akibatnya, mereka harus turun kasta ke Serie D, kompetisi amatir di Italia. Stadion mereka yang indah mulai sepi, dan masa depan klub tampak sangat abu-abu.
Titik balik yang mengubah sejarah klub terjadi pada April 2019. Sebuah perusahaan bernama SENT Entertainment, yang disokong penuh oleh Djarum Group—salah satu perusahaan raksasa asal Indonesia yang dimiliki oleh keluarga Hartono—secara resmi mengakuisisi Como 1907. Langkah akuisisi ini menjadi awal dari investasi besar yang terstruktur, visioner, dan jauh dari sekadar mencari popularitas instan.
Strategi Cerdas: Menggabungkan Legenda dan Manajemen Modern
Salah satu hal yang membuat proyek Como 1907 begitu menarik perhatian dunia adalah cara mereka mengelola klub. Bukannya langsung menggelontorkan uang demi membeli pemain-pemain bintang berharga selangit, manajemen Como justru fokus membangun fondasi klub terlebih dahulu.
Mereka memperbaiki infrastruktur stadion, memperkuat akademi usia muda, dan yang paling memikat adalah merekrut nama-nama besar sepak bola dunia untuk mengisi posisi manajerial dan kepemilikan saham minoritas. Legenda Arsenal dan Barcelona, Cesc Fabregas, bergabung bukan hanya sebagai pemain di akhir kariernya, melainkan berlanjut menjadi pelatih kepala. Selain Fabregas, legenda Arsenal lainnya, Thierry Henry, juga bergabung sebagai salah satu pemegang saham minoritas dan duta klub.
Kehadiran sosok-soskos karismatik ini memberikan dampak instan secara global. Como yang dulunya merupakan klub kecil di regional Lombardia, tiba-tiba menjadi perbincangan hangat di media internasional. Pemain-pemain muda berbakat menjadi tertarik untuk bergabung karena ingin dimentori langsung oleh para legenda hidup lapangan hijau tersebut.
Koneksi Indonesia dan Dampaknya bagi Perekonomian Como
Keterlibatan Djarum Group melalui jaringan bisnisnya membawa angin segar yang luar biasa bagi kota Como. Manajemen tidak melihat Como 1907 hanya sebagai sebuah klub sepak bola sebelas lawan sebelas, melainkan sebagai sebuah platform gaya hidup (lifestyle brand).
Mereka mengintegrasikan potensi pariwisata Danau Como yang mendunia dengan daya tarik sepak bola. Paket-paket wisata premium dibuat, di mana turis bisa menikmati keindahan danau sekaligus menonton pertandingan sepak bola dengan fasilitas VIP di Stadion Giuseppe Sinigaglia yang letaknya memang tepat berada di tepi danau.
Bagi pencinta sepak bola di Indonesia, Como juga menjadi jembatan emosional. Beberapa pemain muda berbakat Indonesia pernah mendapatkan kesempatan untuk merasakan atmosfer latihan dan pembinaan di sana. Kerja sama komersial dan penayangan pertandingan Como di platform media Indonesia juga membuat basis penggemar klub ini tumbuh pesat di tanah air.
Menatap Masa Depan di Panggung Serie A
Setelah perjuangan panjang merangkak dari Serie D, Serie C, hingga Serie B, Como 1907 akhirnya berhasil memastikan diri kembali ke kasta tertinggi sepak bola Italia, Serie A. Keberhasilan ini memicu euforia luar biasa di kota kecil tersebut.
Tantangan di Serie A tentu jauh lebih berat. Mereka harus bersaing dengan klub-klub raksasa tradisional seperti Juventus, AC Milan, Inter Milan, dan Real Madrid-nya Italia lainnya. Namun, dengan manajemen keuangan yang sehat, struktur tim yang solid di bawah arahan taktik Cesc Fabregas, serta dukungan finansial yang stabil, Como diprediksi tidak hanya akan sekadar menumpang lewat sebagai tim promosi. Mereka memiliki potensi besar untuk menjadi klub stabilitas papan tengah atau bahkan mengejutkan sebagai pembunuh raksasa baru di Italia.
Kesimpulan
Kisah Como 1907 adalah contoh sempurna bagaimana sebuah klub sepak bola bisa bangkit dari keterpurukan terdalam melalui manajemen yang profesional, visi bisnis yang jelas, dan eksekusi strategi yang sabar. Dukungan investasi dari Indonesia yang dipadukan dengan keahlian sepak bola para legenda Eropa telah mengubah I Lariani dari klub bangkrut menjadi salah satu proyek sepak bola paling menarik dan paling sehat di benua biru saat ini. Menonton pertandingan di tepi Danau Como kini bukan lagi sekadar impian romantis, melainkan sebuah realitas baru yang siap menghibur para pencinta sepak bola dunia.