Jejak Dalam Negri

Candi Badut, Candi Tertua di Jatim

Candi Badhut diyakini dibangun jauh sebelum pemerintahan Airlangga, artinya ketika candi-candi lain di Jawa Timur mulai dibangun, dan dianggap candi tertua di Jawa Timur berdasarkan prasasti yang di ketemukan. Beberapa arkeolog percaya bahwa Candi Badhut dibangun atas perintah Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan. Dalam Prasasti Dinoyo (682 Caka atau 760 M) yang ditemukan di desa Merjosari Malang, dijelaskan bahwa pusat Kerajaan Kanjuruhan berada di daerah Dinoyo. Dalam prasasti tersebut, candi dibangun sesuai dengan perintah Raja Gajaana (Raja Kanjuruhan) yang menjadi perintis peradaban Malang Raya (Kab. Malang, Kota Malang, Kota Batu). Saat itu Kerajaan Kanjuruhan yang diperintah oleh Raja Dewasimha dan putranya Sang Liswa mencapai masa keemasannya. Kedua raja itu sangat adil, bijaksana, dan dicintai oleh rakyatnya. Bahkan Sang Liswa, dinamai Gajayana, adalah raja yang pandai melucu (mbadhut; badut, Jawa). Selain itu, bulan pertama Margasira Kresnapaksa (28 November) yang tertera di prasasti digunakan sebagai tanggal lahir Kabupaten Malang.

Prasasti Dinoyo dan Kerajaan tertua di Jawa Timur

Candi Badut merupakan candi peninggalan Kerajaan Kanjuruhan yang terletak di Kota Malang. Umur candi ini diperkirakan lebih dari 1.400 tahun. Candi ini dibangun untuk mengenang Reja Agastya yang sangat dipuja oleh Raja Gajayana dan digambarkan dalam prasasti Dinoyo. Gajayana juga membuat arca Rishi Agastya dari batu hitam. Sayangnya, patung ini tidak ditemukan pada saat penggalian dan rekonstruksi Candi Badut. Hanya Lingga dan Yoni saja yang menjadi simbol Siwa dan Parvati, begitu pula arca Durga Mahisasuramardini.

Prasasti Dinoyo saat ini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Prasasti tersebut juga menceritakan tentang masa pemerintahan Raja Dewasimba dan putranya Sang Liswa, yang merupakan masa keemasan Kerajaan Kanjuluhan. Kedua raja itu sangat adil, bijak, dan dicintai rakyatnya. Konon Sang Liswa yang bergelar “Raja Gajayana” senang melucu (Jawa: mbadhut), sehingga candi yang dibangun atas perintahnya disebut Candi Badhut. Meski dengan tudingan seperti itu, sejauh ini tidak ada bukti kuat adanya keterkaitan antara Candi Badhut dan Raja Gajayana.

Selain kaitannya dengan Kerajaan Kanjuruhan yang usianya jauh lebih tua dari itu, ada ciri lain yang membedakan Candi Badhut dengan candi-candi lain di Jawa Timur yaitu ukiran Kalamakara yang menghiasi pintunya. Biasanya relief kepala besar yang terdapat di candi-candi di Jawa Timur dibuat dengan rahang bawah, namun Kalamakara yang terdapat di candi Badhut tidak memiliki rahang bawah, mirip dengan candi-candi di Jawa Tengah. Tubuh montok candi Badhut juga lebih mirip dengan candi-candi di Jawa Tengah. Dari segi bentuk dan relief yang simetris, candi ini juga mirip dengan Candi Dieng di Jawa Tengah. Candi Badhut dianggap sebagai Candi Siwa, meski sampai saat ini arca Agastya belum pernah ditemukan.

Arsitektur Candi Badut

terakota.id

Dapur atau pangkal candi setinggi 2 meter dan tidak memiliki relief, lantai selebar 1 meter mengelilingi candi. Di keempat sisi candi terdapat relung tempat meletakkan arca. Di sebelah utara tembok, hanya tersisa arca Durga Mahasuramatini, meski tidak berkepala. Jika kepalanya masih ada, maka dia bisa melihat puncak Gunung Arjuno. Pada saat yang sama, arca Siwa dan Ganesha yang seharusnya berada di relung selatan dan timur sudah tidak ada lagi. Di dinding tangga terdapat relief burung dan peniup suling.

Di dalam ruangan terdapat patung Lingga yoni yang melambangkan kesuburan dan juga merupakan perwujudan dari persatuan Siwa-Parvati. Meski seluruh candi terbuat dari bahan andesit, namun khusus dinamai Yoni, candi ini selalu terbuat dari batu hitam, sehingga lebih tahan terhadap kerusakan. Ada 5 dinding kecil di sekeliling ruangan dengan patung dewa. Diduga patung ini terbuat dari emas atau logam mulia lainnya, sehingga hanya bisa dipasang selama masa kebaktian. Kami menemukan banyak coretan dan bahkan ukiran “palsu” di dinding candi, termasuk tulisan karakter Jawa yang tertulis di kiri dan kanan pangkalan. Tidak jelas tahun berapa itu ditulis, ternyata itu tidak ditulis pada masa pembangunan candi yang masih mengikuti aksara Jawa Kuno itu. Sangat disayangkan.

Mengenal Candi Badut dan Cirinya

Menurut strukturnya, Candi Badut terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan dan ata. Kaki (Upapitha) disebut Bhurloka dan merupakan gambaran dari alam manusia. Bagian ini ditopang oleh alas penyangga persegi panjang berukuran 14.1m X 18.9m. Lapisan ini tersusun dari tiga buah rangka bidang dengan tinggi 30 cm, 40 cm dan 20 cm. Kaki candi sangat datar, tanpa pahatan yang halus. Di sisi barat terdapat tangga selebar 1,48 meter dengan delapan anak tangga. Pipi tangga ini berbentuk lengkung, bagian bawah pipi tangga dihiasi dengan Kala Naga. Setiap pipi luar tangga dihiasi dengan Kinara. Tubuh utama candi berbentuk bujur sangkar, panjang 7,5 meter kali 7,4 meter, dan tinggi 3,62 meter. Bingkai bawah terdiri dari lipatan datar, lipatan daun teratai, dan lipatan setengah lingkaran. Bagian ini yang disebut Vimana, dan disebut Bwahloka, yaitu gambaran alam dan langit.

Sedangkan bagian puncak yang dinamakan Cikhara disebut Swahloka, gambaran alam sorgawi atau kayangan para dewa. Namun sayangnya untuk bagian puncak candi sudah sulit untuk diamati, karena bagian ini sudah tak tampak jelas. Akibat beberapa kali dilakukan upaya penggalian di masa silam hasilnya tidak ditemukan beberapa bagian penting dari Candi Badut. Pada saat yang sama, puncak yang disebut Cikhara disebut Swahloka, dan itu adalah gambar langit atau surga para dewa. Sayangnya bagian atas candi sulit untuk diamati, karena bagian ini tidak jelas. Karena beberapa penggalian di masa lalu, tidak ada bagian penting dari Candi Badut yang ditemukan.

Bangunan dari bahan andesit berdiri di atas Batu setinggi 2 meter. Batu ini sangat sederhana, tanpa relief, membentuk selasar selebar sekitar 1 meter di sekeliling candi. Tangga menuju selasar di kaki candi terletak di sisi barat, tepat di depan pintu masuk ruang utama candi. Di luar dinding tangga, ukirannya sudah tidak lengkap lagi, namun masih terlihat sulur-sulur yang mengelilingi sosok seseorang bermain suling. Di pintu masuk garba graha (ruang di dalam candi) terdapat bangunan sepanjang 1,5 meter. Pintu masuknya sangat lebar, dengan hiasan Kalamakara di atas pintu masuk.

Di dalam tubuh candi memiliki luas kurang lebih 5,53 x 3,67 meter persegi. Di bagian tengah ruangan terdapat lingga dan yoni yang merupakan simbol kesuburan. Pada dinding yang mengelilingi ruangan, terdapat beberapa dinding kecil yang semula sepertinya berisi arca. Dinding candi dihiasi dengan relief burung kepala manusia dan peniup suling. Ada juga relung berhias bunga dan burung di keempat sisi candi, pada dinding luar di sisi utara candi terdapat arca Durga Mahasuramatini yang terlihat rusak. Harusnya terdapat arca Siwa di sisi selatan dan arca Ganesha di sisi timur. Keduanya sudah tidak ada lagi di tempatnya.

Lanskap Candi dan Kalamakara tanpa rahang bawah

Tubuh tambun Candi Badut juga lebih mirip dengan candi-candi di Jawa Tengah. Candi tersebut juga memiliki kemiripan dengan Candi Dieng di Jawa Tengah. Apalagi dari segi bentuk dan relief candi yang simetris. Meski sampai saat ini arca Agastya belum ada, candi tersebut masih dianggap candi Siwa. Dinding candi dihiasi dengan relief burung kepala manusia dan peniup suling. Selain itu, terdapat relung berhias bunga dan burung di keempat sisi candi. Pada dinding luar sebelah utara terdapat arca Durga Mahisasuramardini yang terlihat rusak. Di sisi selatan terdapat arca Siwa, dan di sisi timur terdapat arca Ganesha. Namun, tak satu pun dari mereka berada di tempatnya sekarang.

Seperti candi lain di Jawa Timur, candi ini menghadap ke barat. Ini berbeda dengan candi yang berumur lebih muda karena tidak ada ukiran rahang bawah pada ukiran Kalamakara di atas pintu dan di atas setiap bagian candi. Bangunannya juga lebih gemuk seperti candi di Jawa Tengah. Apalagi bangunannya sangat mirip dengan Candi Gedong Songo di lereng bukit Ungaran Jawa Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa candi ini dibangun pada masa awal penyebaran agama Hindu Siwa ke Jawa Timur. Sayangnya, bagian atas candi tidak dapat dikembalikan ke bentuk aslinya karena ornamen-ornamennya sudah lama runtuh dan terkubur sehingga menyebabkan keausan serta beberapa batu yang tidak lengkap karena digunakan penduduk setempat sebagai bahan bangunan. Jika terpaksa dipasangkan, maka sebagian besar tidak akan Nampak alami lagi seperti sedia kala. Hanya satu bagian yang tersisa di sepanjang tepi atas dinding. Bagian atas dan dekorasinya tertata rapi.

Pemugaran dan Restorasi Candi

Candi ini ditemukan pada tahun 1921 saat itu hanya berupa tumpukan puing yang bercampur tanah. Orang pertama yang melaporkan keberadaan Candi Badut adalah Maureen Brecher, seorang Belanda yang bekerja di Malang. Candi Badut dibangun kembali pada tahun 1925-1927 di bawah pengawasan B. De Haan dari Biro Arkeologi Hindia Belanda. Dari penggalian saat itu, ditemukan bahwa bangunan candi telah runtuh total, kecuali bagian kakinya yang masih dapat dilihat.

Kemudian di klasifikasikan dan dikumpulkan batu di sekitarnya sesuai dengan jenis dan ukurannya. Atas dasar ini, kemudian mencoba membangun bangunan candi. Pada tahun 1926, kecuali atap yang tidak ditemukan, kaki dan badan utama seluruh bangunan dapat dibangun kembali.

Candi ini dipugar pada tahun 1925-1926, namun banyak bagian yang telah hilang atau tidak dapat dikembalikan ke bentuk aslinya. Misalnya, atap bangunan induk sudah usang. Hanya bagian tertentu yang tersisa di sepanjang tepi atas dinding. Di sebelah barat pelataran, di sisi kiri dan kanan pelataran depan bangunan candi yang dipugar, terdapat pondasi bangunan yang belum dipugar. Dan masih banyak batu di sekitar candi yang tidak dapat dikembalikan ke posisi semula.

Pada saat ditemukan, selain candi induk, terdapat tiga sisa pondasi candi pewara (candi pendamping) yang disusun dari utara ke selatan menghadap ke timur. Candi pewara di kanan dan di tengah telah dipendam karena sulit relokasi. Fondasi di sisi kiri Candi Pewara berupa tepian seperti kolam untuk melindungi tanah di sekitarnya dari longsor. Diduga terdapat arca Nandi dan lingga yoni yang ditemukan di sekitar reruntuhan candi. Lembu Nandi adalah tunggangan Siwa. Adanya arca tersebut menandakan bahwa Candi Badut merupakan Candi Hindhu-Syiwa, Batuanya tersusun dari dua buah candi pewara, ditumpuk rapi di sudut halaman candi. Dari tumpukan bebatuan inilah kami belajar bagaimana mereka menyusun bebatuan tersebut menjadi candi yang kuat. Bentuk siku-siku yang saling mengunci itulah yang membuat susunan batunya serapi mainan Lego.

Berbeda dengan candi-candi lain di Jawa Timur yang biasanya dibangun dengan batu bata merah, candi ini terbuat dari bahan andesit. Ciri lain yang membedakannya dari candi lain di Jawa Timur adalah ukiran Kalamakara yang menghiasi pintunya. Biasanya relief kepala besar yang terdapat pada candi-candi di Jawa Timur dikerjakan dengan rahang bawah. Namun, Kalamakara yang terdapat di Candi Badut tidak memiliki rahang seperti yang terdapat di candi-candi di Jawa Tengah.

Lokasi Candi Badut

Secara administratif candi badut terletak di dusun Karang Besuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dari Kota Malang sekitar 10-15 menit perjalanan. Lokasi candi ini masuk Kab. Malang, tapi karena dekat dengan Kec sukun maka bisa lebih mudah dijangkau dari Kota Malang. Tetletak di Jl. Candi, berada di depan lapangan voli, di sebelah kiri TK Dharma Wanita II Karangbesuki. Kawasan tersebut baru berkembang pada 1980-an. Sekarang letak candi ini hampir berada di tengah-tengah pemukiman.

Rute Menuju Candi Badut

Rute Candi Badut dapat dicapai dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Jika menggunakan kendaraan pribadi dari Kota Malang, rute yang paling mudah yaitu lewat Jl. Retawu di sebelah utara Museum Brawijaya. Ikuti jalan ke arah barat melewati Jl. Bondowoso, Jl. Raya Tidar, Jl. Puncak Mandala, Jl. Puncak Yamin, Jl. Esberg, lalu belok kanan melewati ujung Jl. Himalaya pangkalan mikrolet trayek Arjosari-Tidar. Dari pangkalan microlet ini, pengunjung akan menemui Jl. Candi. Lokasi candi berada di kiri jalan di depan TK Dharma Wanita II Karangbesuki. Jika menggunakan angkutan umum, dari kota Malang bisa naik mikrolet jurusan Arjosari-Tidar dan turun pojok Jl. Himalaya. Dari sini, pengunjung harus berjalan ke arah utara kira-kira 300 meter hingga sampai lokasi candi.

Rute Candi Badut bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun umum. Jika Anda menggunakan mobil pribadi di Kota Malang, silahkan menggunakan aplikasi maps di bawah ini. Dari panduan maps atau Tanya-tanya warga asli malang, wisatawan akan menemukan Jl. Candi, Lokasi Candi. Candi ini berada di sebelah kiri jalan depan TK Dharma Wanita II Karangbesuki. Jika menggunakan kendaraan umum, mulai dari Kota Malang bisa naik mobil Mikrolet jurusan Arjosari-Tidar, dari sini pengunjung harus berjalan kaki sekitar 300 meter ke utara sampai mencapai candi.

Tiket dan Jam Buka Candi Badut

Candi Badut buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. Anda hanya perlu berkoordinasi dengan pengelola jika menginginkan jam tambahan.  Candi ini tidak dikenakan tiket khusus. Hal ini dikarenakan selain fungsi wisata sejarahnya, tempat ini juga digunakan untuk ritual keagamaan umat Hindu. Pengunjung dan rombongan hanya perlu membayar sesuai kemampuan. Biaya tersebut akan digunakan untuk sejumlah kecil biaya perawatan di area Candi.

Fasilitas Candi Badut

Daya tarik wisata Candi Badut salah satunya memiliki udara sejuk, dengan pepohonan dan taman yang tertata rapi. Suasana di sekitar candi asri dengan pepohonan yang rimbun. Wisatawan bisa berfoto dengan background candi yang bernilai budaya tinggi. Saat pengunjung duduk atau sekedar piknik di rerumputan di taman yang mengelilingi Candi, sambil merasakan sejuknya angin. Bangunan Candi Badut yang terletak di kawasan pemukiman tidak mengurangi keindahan bangunan tersebut.

Petugas cagar budaya Kota Malang sangat piawai dalam menjaga dan menjaga kawasan tempat dibangunnya Candi Badut. Hal itu terlihat dari infrastrukturnya, seperti toilet di areal Candi yang bersih. Petugas cagar budaya juga melindungi keindahan taman dengan baik. Sambil menyaksikan, Anda bisa melihat bangunan candi yang dipenuhi terpaan sinar matahari di antara deretan aneka bunga. Bunganya tertata rapi, dan hijaunya rerumputan melengkapi tanah di sekitar candi.

Pengunjung juga bisa memanfaatkan waktu untuk menambah pengetahuan. Pengunjung dapat bertanya kepada petugas tentang situs candi. Atau, Anda dapat melihat papan informasi candi. Pengunjung hanya perlu membayar biaya penggantian pencetakan sebesar Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per lembar.

Candi Badhut bukanlah tempat wisata utama di Malang, tapi fasilitasnya sangat bagus. Fasilitas dasar seperti toilet, mushola dan warung makan sudah ada di sekitar Candi. Untuk tempat parkir, pengunjung bisa meletakkan kendaraannya di persawahan di samping areal candi. Pengunjung harus mengunci dua kali kendaraan Anda untuk memastikan keamanan karena tidak ada petugas parkir.

Candi Badut merupakan sebuah destinasi wisata di Malang yang memadukan tempat wisata dengan kecintaan pada budaya nasional dan pendidikan sejarah. Di Malang, perpaduan ketiga hal tersebut menjadi tempat hiburan yang wajib dikunjungi.

😀 😦 😉

1 comment

Filosofi Gorengan Sebagai Camilan Wajib di setiap Daerah Indonesia March 22, 2021 at 6:05 am

[…] Candi Badut, Candi Tertua di JatimFebruary 24, 2021February 25, 2021525 […]

Reply

Leave a Comment

You cannot copy content of this page