Site icon JejakPejalanKaki

Benteng di Indonesia: Benteng Vredeburg dan Sejarah Kelam Yogyakarta

Jika kita berjalan di sepanjang Jalan Malioboro titk 0 Km, kita akan melihat bangunan-bangunan peninggalan zaman kolonial. Salah satu contohnya adalah Benteng Vredeburg. Benteng Vredeburg adalah salah satu Benteng di Indonesia, sebuah bangunan yang menyimpan banyak cerita sejarah yang terjadi di Yogyakarta, sejak pemerintahan kolonial Belanda berkuasa di sana.

Lokasi Benteng di Indonesia: Benteng Vredeburg

Lokasi benteng berada di ujung jalan Malioboro, dekat dengan titik 0 Km Kota Yogyakarta tepatnya di Jl. Margo Mulyo No.6, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55122. Jika anda bingung ikuti rute google maps berikut ini:

Artikel menarik lainnya > Benteng di Indonesia Peninggalan Masa Kolonial

Sejarah berdirinya benteng

Benteng Vredeburg di Yogyakarta berdiri berhubungan dengan pendirian Kasultanan Yogyakarta. Kraton Kasultanan Yogyakarta pertama kali dibangun pada tanggal 9 Oktober 1755. Setelah kraton mulai dihuni, dibangun juga bangunan-bangunan pendukung seperti Pasar Gedhe, Masjid, alun-alun, dan bangunan lainnya.

Perkembangan kraton yang pesat menimbulkan kekhawatiran bagi pihak Belanda. Oleh karena itu, mereka mengusulkan kepada Sultan untuk membangun sebuah benteng di dekat kraton. Alasan yang mereka berikan adalah agar Belanda dapat menjaga keamanan kraton dan sekitarnya. Namun, sebenarnya Belanda memiliki tujuan lain, yaitu untuk memudahkan pengawasan mereka terhadap semua perkembangan yang terjadi di dalam kraton.

Posisi benteng yang hanya berjarak tembakan meriam dari kraton dan menghadap ke jalan utama menuju kraton menunjukkan bahwa fungsi benteng tersebut bisa dimanfaatkan sebagai sarana strategi, intimidasi, penyerangan, dan pemblokiran. Dengan kata lain, pendirian benteng ini bertujuan untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Sultan berbalik menyerang Belanda dan berubah menjadi musuh mereka.

Awal mula dinamakan Vredeburg

Pada tahun 1760, dimulailah pembangunan sebuah bangunan yang digunakan sebagai benteng oleh Kompeni. Benteng ini awalnya sangat sederhana, namun pada tahun 1767, Gubernur Pantai Utara Jawa di Semarang meminta kepada Sultan agar benteng tersebut diperkuat untuk menjamin keamanan orang-orang Belanda.

Dengan izin dari Sri Sultan Hamengku Buwono I, pembangunan benteng selesai pada tahun 1787 dan diresmikan oleh Gubernur Johannes Sioeberg sebagai benteng Kompeni dengan nama Rustenburgh, yang berarti “tempat istirahat”.

Benteng Rustenburgh mengalami perkembangan pesat, namun pada tahun 1867, Yogyakarta mengalami gempa bumi yang menyebabkan benteng tersebut memerlukan perbaikan. Setelah pemugaran selesai, nama benteng Rustenburgh diubah menjadi benteng Vredeburg, yang berarti “perdamaian”. Meskipun nama “Perdamain” sendiri merupakan sesuatu yang semu bagi Rakyat dan Kesultanan Yogyakarta.

Peristiwa Geger Sepoy (Sepehi)

Seiring berjalannya waktu, Benteng Vredeburg menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kota Yogyakarta. Pada masa penguasaan Inggris dari tahun 1811 hingga 1816, benteng ini berada di bawah kendali pemerintah Inggris di bawah komando John Crawfurd atas perintah Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Pada masa pemerintahan Inggris, terjadi peristiwa penting di tempat ini yang dikenal dengan sebutan Geger Sepoy.

Peristiwa Geger Sepoy terjadi pada tanggal 18 hingga 20 Juni 1812. Peristiwa ini melibatkan serangan pasukan Inggris dan kekuatan pribumi terhadap kraton Yogyakarta. Geger Sepehi merupakan peristiwa penyerangan Keraton Yogyakarta yang dilakukan oleh Inggris pada tanggal 19-20 Juni 1812.

Penyerbuan ini bertujuan untuk menggulingkan Sultan Hamengkubuwana II yang menolak bekerja sama dengan Inggris. Nama “Sepehi” berasal dari pasukan Sepoy yang dipekerjakan oleh Inggris untuk melancarkan serangan terhadap keraton. Dalam penyerbuan ini, terlibat sekitar 1.200 prajurit Inggris dan Sepoy, serta dibantu oleh 800 prajurit dari Legiun Mangkunegaran.

Artikel menarik lainnya: Benteng di Indonesia: Benteng Nieuw Victoria Kota Ambon

Penguasaan Jepang

Pada tanggal 5 Maret 1942, ketika Jepang berhasil menguasai Kota Yogyakarta, Benteng Vredeburg turut dikuasai oleh tentara Jepang. Di dalam benteng ini, beberapa bangunan digunakan sebagai tempat penahanan bagi tawanan orang Belanda dan orang Indonesia yang melawan pemerintahan Jepang. Selain itu, Benteng Vredeburg juga berfungsi sebagai markas Kempetai, yang merupakan pasukan kepolisian Jepang, dan sebagai gudang senjata serta amunisi untuk tentara Jepang.

Pada masa pendudukan Jepang, Benteng Vredeburg menjadi pusat kegiatan militer dan administratif mereka. Markas Kempetai di dalam benteng tersebut digunakan untuk menjalankan kebijakan ketat dan penindasan terhadap masyarakat. Gudang senjata dan amunisi di benteng ini mendukung kebutuhan pasukan Jepang dalam menjaga kekuasaan mereka di Yogyakarta.

Benteng Vredeburg menjadi saksi bisu dari periode penjajahan Jepang di Yogyakarta, di mana pendudukan tersebut membawa perubahan besar bagi Keraton dalam melawan Belanda. Walaupun hal tersebut harus dibayar mahal dengan banyaknya penderitaan dan penindasan bagi banyak orang atas datangnya Jepang.

Kedatangan Jepang merupakan peristiwa sejarah yang menunjukkan bahwa benteng Vredeburg memiliki sejarah yang kompleks dan berperan penting dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa tersebut.

Masa Awal Kemerdekaan

Artikel menarik lainnya: Benteng di Indonesia: Benteng Fort Rotterdam dan Keunikanya

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Benteng Vredeburg beralih kepemilikan kepada instansi militer Republik Indonesia. Namun, ketika terjadi peristiwa Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948, benteng ini dikuasai oleh pasukan Belanda dari tahun 1948 hingga 1949.

Pasukan Belanda menjadikan benteng ini sebagai markas bagi Tentara IV G (Informatie Voor Geheimen), yaitu Dinas Rahasia Belanda. Selain itu, benteng ini juga digunakan sebagai markas batalyon pasukan dan tempat penyimpanan perbekalan serta peralatan tempur.

Pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, pasukan TNI menjadikan Benteng Vredeburg sebagai salah satu sasaran serangan untuk merebut kembali benteng dari pasukan Belanda. Pada tanggal 29 Juni 1949, setelah pasukan Belanda mundur dari Yogyakarta, pengelolaan Benteng Vredeburg diambil alih oleh APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia).

Pengambilalihan kembali Benteng Vredeburg oleh pihak Indonesia menunjukkan semangat perlawanan dan perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan. Benteng ini menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah dan memegang peranan penting dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa itu.

Semenjak Perjuangan setelah Kemerdekaan itu, Benteng Vredeburg menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang dijaga dan dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.

Benteng Vredeburg saat ini

Sejak tahun 1992 hingga saat ini, Museum Benteng Vredeburg secara resmi menjadi Museum Khusus Perjuangan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (SK Mendikbud RI) Prof. Dr. Fuad Hasan No. 0475/0/1992 tanggal 23 November 1992. Museum ini diberi nama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dan menempati lahan seluas 46.574 meter persegi.

Benteng Vredeburg merupakan sebuah bangunan yang dikelilingi oleh berbagai bangunan kuno peninggalan zaman Belanda. Di sekitar benteng ini, terdapat Gedung Agung yang dulunya merupakan rumah residen, gereja Ngejaman (GPIB Margamulya), Senisono (yang bergabung dengan Gedung Agung), kantor BNI 1946, kantor Pos, kantor Bank Indonesia, dan Societeit Militaire.

Keberadaan bangunan-bangunan bersejarah tersebut memberikan daya tarik yang unik dan khas bagi Benteng Vredeburg sebagai destinasi wisata budaya di Yogyakarta. Mengunjungi benteng ini, pengunjung dapat merasakan atmosfer sejarah yang kental dan mengagumi arsitektur kuno yang masih terjaga dengan baik.

Selain itu, Benteng Vredeburg juga menawarkan pengalaman edukatif melalui berbagai fasilitas dan pameran yang ada di dalamnya. Museum di dalam benteng ini menampilkan koleksi dan informasi seputar perjuangan nasional serta sejarah Yogyakarta. Pengunjung dapat mempelajari peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kota ini dan menghargai jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan.

Sebagai tujuan wisata budaya, Benteng Vredeburg tidak hanya memberikan pengalaman berwisata yang menarik, tetapi juga menjadi ajang untuk memperkaya pengetahuan dan kecintaan terhadap sejarah. Dengan menjaga keaslian dan keberlanjutan bangunan-bangunan bersejarah di sekitarnya, Benteng Vredeburg turut berperan dalam melestarikan warisan budaya dan menginspirasi generasi muda untuk menghargai dan mempelajari sejarah bangsa.

Artikel menarik lainnya: Benteng di Indonesia: Benteng Torre Peninggalan Portugis

Waktu Kunjungan Museum

Selasa – Minggu : 08.00 – 15.30 WIB

Jum’at : 08:00 – 16:00 WIB

Hari Senin dan Hari Libur Nasional Museum Tutup

Tiket Masuk

Pengunjung Dewasa: Rp. 3.000,-

*Pengunjung Dewasa Rombongan (minimum 20 orang): Rp. 2.000,-

Pengunjung Anak-anak (TK, SD, SMP): Rp. 2.000,-

*Pengunjung Anak-anak Rombongan (minimum 20 orang): Rp. 1.000,-

Pengunjung Asing: Rp. 10.000,-

Galeri Fasilitas

Galeri Ruang Pameran Tetap

Ruang pameran tetap terdiri dari 4 ruang yaitu ruang pameran diorama I sampai dengan ruang pameran diorama IV. Ruang pameran diorama I menempati bangunan M3 (eks perumahan perwira selatan I). Ruang pameran diorama II menempati bangunan M1 dan M2 (eks perumahan perwira utara I dan II). Ruang pameran diorama III menempati bangunan E lantai I (eks barak prajurit utara). Ruang pameran diorama IV menempati bangunan G lantai I (eks societeit)

Galeri Ruang Pameran Temporer

Ruang pameran temporer indoor menempati bangunan E lantai 2 (eks barak prajurit utara). Sedangkan ruang pameran temporer outdoor terdapat di halaman Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dengan keasrian, keunikan dan kemegahan arsitektur bangunan benteng.

Galeri Ruang Audio Visual

Ruang audio visual menempati bangunan F lantai 2 (fasilitas umum) berkapasitas 100 orang dengan penataan kursi yang menyerupai gedung film (bioskop). Ruang tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegaiatan pemutaran film, seminar, workshop dan lainnya yang menggunakan peralatan multimedia.

Denah Zona Museum

Kesimpulan

Benteng Vredeburg, yang terletak di Yogyakarta, Indonesia, adalah destinasi bersejarah yang menawan. Bangunan ini mencerminkan arsitektur Belanda yang megah dan menyajikan sejarah kolonial yang berwarna. Pengunjung dapat menjelajahi museum di dalamnya untuk memahami masa lalu Indonesia yang kompleks. Benteng ini memiliki nilai sejarah yang tinggi karena pernah digunakan sebagai tempat penahanan pasukan Indonesia pada masa perjuangan kemerdekaan. Dengan tiket masuk yang terjangkau, Benteng Vredeburg adalah tempat yang penuh pengetahuan dan penuh kenangan bagi mereka yang ingin mendalami sejarah Indonesia.

Artikel menarik lainnya: Candi Jago di Malang Menyimpan Misteri Sejarah Singosari

Exit mobile version