Site icon JejakPejalanKaki

Candi Jago di Malang Menyimpan Misteri Sejarah Singosari

Jika membahas tentang Kabupaten Malang pasti sudah identik dengan kota yang memiliki berbagai macam tempat wisata alam dan wisata kulinernya. Tapi tahukah kalian bahwa ternyata, Kabupaten Malang juga memiliki tempat bersejarah yang sayang jika tidak dikunjungi ketika sedang berlibur di kota ini.

Artikel menarik lainnya > Rainbow Slide Floating Market Lembang Sensasi Ekstrim

Wisata sejarah itu adalah Candi Jago, Candi ini adalah sebuah Candi peninggalan dari zaman kerajaan Singasari yang didirikan sekitar abad ke-13 Masehi.

Letak Candi Jago

Candi Jago terletak di lembah Gunung Bromo, di dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tepatnya sekitar 22 km ke arah timur dari Kota Malang. Karena lokasinya berada di Desa Tumpang, kompleks candi kuno ini sering disebut juga sebagai Candi Tumpang. Penduduk setempat memiliki sebutan unik untuknya, yaitu Cungkup.

Berikut View 360:

Arti Candi Jago

Berdasarkan kitab Negarakertagama dan Pararaton, bangunan purbakala ini sebenarnya bernama Jajaghu. Dalam pupuh 41 gatra ke-4 Negarakertagama, disebutkan bahwa Raja Wisnuwardhana dari Kerajaan Singasari mempraktikkan agama Syiwa Buddha, sebuah kepercayaan yang menggabungkan ajaran Hindu dan Buddha. Kepercayaan ini berkembang selama pemerintahan Kerajaan Singasari yang berjarak sekitar 20 km dari Candi Jago. Jajaghu, yang memiliki makna ‘keagungan’, merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut tempat suci tersebut.

Sejarah Candi

Candi Jago dibangun atas perintah dari Raja Kertanegara sebagai bentuk penghormatan kepada ayahandanya, yaitu Raja Singashari ke IV, Sri Jaya Wisnuwardhana, yang meninggal pada tahun 1268 M. Menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, pembangunan Candi Jago berlangsung dari tahun 1268 M hingga tahun 1280 M. Meskipun didirikan pada masa pemerintahan Kerajaan Singasari, kitab-kitab tersebut mencatat bahwa pada tahun 1359 M, Candi Jago sering dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit.

Keterkaitan Candi Jago dengan Kerajaan Singasari tampak jelas dari pahatan motif teratai (padma), yang menjulur ke atas dari bonggolnya, yang menghiasi tatakan arca-arcanya. Motif teratai semacam itu sangat populer pada masa Kerajaan Singasari. Perlu diperhatikan dalam sejarah candi bahwa pada zaman dahulu, raja-raja biasanya memugar kembali candi-candi yang telah didirikan oleh raja-raja sebelumnya. Diduga pada tahun 1343 M, Candi Jago juga mengalami pemugaran atas perintah Raja Adityawarman dari Melayu, yang memiliki hubungan darah dengan Raja Hayam Wuruk.

Kondisi Bangunan Candi

Kini Candi Jago masih berbentuk reruntuhan yang belum direstorasi. Bangunan candi ini berbentuk segi empat dengan ukuran 23 x 14 meter. Sayangnya, atap candi sudah hilang, sehingga tinggi asli bangunannya tidak dapat dipastikan, namun diperkirakan mencapai 15 meter. Sebagian besar bagian atas candi telah rusak karena petir, sesuai dengan aturan masyarakat setempat.

Candi ini menghadap ke barat dan didirikan di atas batur setinggi sekitar 1 meter. Kaki candi terdiri dari 3 teras bertingkat. Semakin tinggi, teras kaki candi semakin mengecil, sehingga pada lantai pertama dan kedua, terdapat selasar yang memungkinkan orang berjalan mengelilingi candi. Ruang utama, Garba ghra, terletak sedikit bergeser ke belakang.

Bentuk bangunan candi yang bersusun, berselasar, dan bergeser ke belakang adalah karakteristik umum dari bangunan pada zaman megalitikum, yang dikenal sebagai bangunan punden berundak. Bentuk ini umumnya digunakan sebagai tempat pemujaan arwah leluhur.

Dilihat dari bentuknya, dugaan sementara adalah Candi Jago juga didirikan sebagai tempat pemujaan arwah leluhur. Meskipun demikian, penelitian dan kajian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi hipotesis ini. Untuk mencapai lantai yang lebih tinggi, terdapat dua tangga sempit di sisi kiri dan kanan bagian depan (barat) candi. Lantai paling atas memegang peran yang paling penting dan dianggap sebagai tempat yang paling suci, dengan bangunan yang sedikit bergeser ke belakang.

Artikel menarik lainnya > Menikmati Keindahan Sunrise di Gunung Banyak Kota Batu

Relief Candi

Candi Jago dihiasi oleh panel-panel relief yang terpahat dengan indah, mulai dari bagian kaki hingga ke dinding ruangan teratas. Tidak ada bidang yang kosong, karena semuanya diisi dengan beragam hiasan yang menggambarkan cerita-cerita tentang pembebasan dari kehidupan dunia. Hal ini menegaskan dugaan bahwa pembangunan Candi Jago sangat terkait dengan meninggalnya Sri Jaya Wisnuwardhana. Sesuai dengan keyakinan Raja Wisnuwardhana yang menganut agama Syiwa Buddha, relief pada Candi Jago mencerminkan ajaran Hindu dan Buddha.

Ajaran Buddha tercermin dalam relief cerita Tantri Kamandaka dan cerita Kunjarakarna yang diukir pada teras paling bawah. Pada dinding teras kedua, terpahat lanjutan cerita Kunjarakarna dan potongan kisah Mahabarata yang mengandung ajaran agama Hindu, yaitu Parthayajna dan Arjuna Wiwaha. Teras ketiga dipenuhi dengan relief lanjutan cerita Arjunawiwaha. Dinding tubuh candi juga dihiasi dengan pahatan relief cerita Hindu tentang pertempuran Krisna dengan Kalayawana.

Relief Tantri Kamandaka mengisahkan seorang Brahmana yang memberikan nasihat tentang kehidupan dan kebijaksanaan dunia kepada seorang pangeran yang tuli. Sementara itu, relief Kunjarakarna menceritakan tentang seorang raksasa yang setia pada ajaran agama Buddha dan ingin bereinkarnasi untuk dilahirkan kembali sebagai manusia dengan paras yang baik.

Meskipun demikian, banyak pakar arkeologi menyimpulkan bahwa bentuk atap candi menyerupai pagoda atau meru. Di bagian kaki candi, terukir relief-relief yang menyajikan berbagai kisah menarik yang dapat dibaca dan diinterpretasikan. Berikut adalah beberapa cerita dari relief-relief tersebut:

1. Relief Kresnayana: Terletak di teras ketiga Candi Jago, relief ini mengisahkan tentang pernikahan Raja Wisnuwardhana dengan Naraya Waningyun.

2. Relief Kunjarakarna: Berada di bagian timur laut Candi Jago, relief ini mengambil cerita dari ajaran Budha Mahayana, yaitu tentang raksasa bernama Kunjarakarna yang melakukan pertapaan di Gunung Semeru dengan harapan untuk bereinkarnasi sebagai manusia yang memiliki paras yang indah.

3. Relief Pancatantra: Bercerita tentang seorang brahmana yang memberikan ajaran tentang kehidupan dan kebijaksanaan kepada tiga pangeran yang tidak bisa mendengar. Ajaran ini disebut Pancatantra, yang terdiri dari lima bagian, yaitu:

4. Relief Fabel: Terletak pada bagian sisi kiri kaki candi yang berada di barat laut, relief ini menampilkan kisah-kisah fabel yang melibatkan binatang-binatang. Salah satunya adalah kisah tentang seekor kura-kura yang ingin bisa terbang. Kura-kura tersebut dibantu oleh burung bangau yang membawa ranting dengan kakinya yang kemudian akan digigit oleh kura-kura selama terbang nanti.

Semua cerita yang terpahat pada relief Candi Jago menambah daya tarik dan keunikan candi ini sebagai situs bersejarah yang kaya akan budaya dan pengetahuan pada masa lampau.

Arca Candi

Sekitar 6 meter dari kaki candi, terdapat ukiran menyerupai tatakan arca kala dengan ukuran sekitar 1 meter. Di puncaknya, batu tersebut dihiasi dengan pahatan bunga padma yang menjulur dari bonggolnya.

Di sisi barat halaman bangunan, terdapat arca Amoghapasa berlengan delapan yang berada di latar belakangi singgasana berbentuk kepala raksasa yang saling membelakangi. Sayangnya, kepala arca tersebut telah hilang dan lengan-lengannya telah patah. Sekitar 3 meter di selatan arca ini, terdapat arca kepala raksasa setinggi sekitar 1 meter. Namun, tidak ada informasi yang memastikan apakah benda-benda yang berada di pelataran candi tersebut adalah aslinya berada di tempatnya masing-masing.

Di halaman Candi Jago juga terdapat sebuah arca Bhairawa berukuran kecil. Menurut Agus Sunyoto dalam bukunya ‘Wisata Sejarah Kabupaten Malang’, kemungkinan arca tersebut merupakan representasi Adityawarman ketika masih menjabat sebagai werdhamantri di Kerajaan Majapahit. Setelah menjadi raja di Suwarnadwipa, Adityawaraman membuat arca Bhairawa berukuran besar di Jambi.

Arsitek Candi Jago

Dilihat dari segi arsitekturnya, Candi Jago memiliki gaya arsitektur yang sangat mirip dengan punden berundak. Bagian utama candi berdiri di atas kaki candi yang terdiri dari tiga tingkatan. Bangunan utama candi terletak agak ke belakang dan menempati teras paling atas. Denah dasar candi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 23,71 x 14 meter, dan tinggi yang tersisa adalah 9,97 meter, menghadap ke arah barat.

Struktur candi terdiri dari kaki candi yang berbentuk batur dengan tiga tingkatan, bagian badan candi yang hanya menyisakan ambang pintu, serta atap candi yang sudah hilang. Candi menghadap ke arah barat dan terdapat dua anak tangga untuk menghubungkan antara tingkatan kaki candi.

Pemugaran Candi

Candi Jago telah mengalami renovasi pada masa Majapahit oleh Adityawarman berdasarkan penemuan Prasasti Manjusri yang berasal dari tahun 1343 Masehi. Renovasi ini merupakan bentuk penghormatan putra Melayu, Adityawarman, terhadap nenek moyangnya, Wisnuwarddhana. Mpu Prapanca dalam Kakawin Negarakrtagama dan Kitab Pararaton juga menyatakan bahwa candi ini didirikan sebagai persembahan bagi Buddha oleh Wisnuwarddhana.

Penelitian pertama terhadap Candi Jago dilakukan oleh R.H.T. Friederich pada tahun 1854, diikuti oleh J.F.G. Brumund (1855), Fergusson (1876), Veth (1874), J.L.A. Brandes (1904), dan Stamford pada tahun 1917. Pada tahun 2015, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur melakukan studi teknis untuk melihat kondisi struktur Candi Jago yang mengalami kerusakan. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri No. 203/M/2016, Candi Jago ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Nasional.

Jam Buka Candi Jago

Candi Jago dibuka mulai pukul 07.30 hingga 16.00 WIB. Pengunjung dapat menikmati Candi Jago tanpa perlu membayar biaya masuk. Candi Jago dilengkapi dengan fasilitas toilet, warung makan, dan area parkir.

Penutup

Candi Jago, sebuah candi abad ke-13 peninggalan Kerajaan Singosari di Kabupaten Malang, menggambarkan kemegahan budaya, seni dan kepercayaan masa lampau. Dengan arsitektur yang anggun dan ukiran yang rumit, candi ini memberi wawasan tentang peradaban masa silam dan warisan budaya yang berharga. Melalui kelestariannya, Candi Jago mengajarkan pentingnya menjaga warisan sejarah sebagai jendela bagi generasi modern untuk memahami dan menghargai akar budaya yang kaya.

Artikel menarik lainnya > Benteng di Indonesia Peninggalan Masa Kolonial

Exit mobile version