Catatan Perjalanan

Lompat Batu, Sebuah Proses Pendewasaan

Pulau Nias

Jaman masih menuntut ilmu dulu (gak sampai ke pengadilan sih nuntut nya hehe) temen temen gue banyak yang tidak tau Nias itu ada dimana, ada yang bilang dekat Pulau Komodo lah, dekat Batam lah, tetangga nya Bangka Belitung lah, Indonesia bagian timur lah, heheh come on bro n sis Nias itu ada di Sumatra, sebuah pulau yang masuk kedalam wilayah Provinsi Sumatra Utara. Tapi itu dulu ya kalau sekarang orang orang juga sudah paham Nias itu ada dimana, semoga?!

Pulau Nias itu terdiri dari 5 wilayah yaitu : Kabupaten Nias Utara, Kotamadya Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Barat dan Kabupaten Nias Selatan. Walaupun sama sama Nias tapi masih ada sedikit perbedaan budaya antara satu wilayah dengan wilayah lain misalnya rumah adat yang bentuknya berbeda, bahasa dan logat, kebiasaan masyarakat, kearifan lokal, pakaian adat dan juga adat istiadat nya. Itulah hebatnya INDONESIA yang sangat kaya dengan budaya dan adat istiadat dari Sabang sampai Merauke.

Masyarakat Nias umum nya bermata pencaharian dengan berkebun, beternak dan jadi nelayan. Meskipun mayoritas penduduk nya beragama Nasrani tapi toleransi kerukunan umat beragama di pulau ini sangat tinggi, Luar biasa.

Selain terkenal dengan wisata pantai nya yang memukau, Pulau Nias juga terkenal dengan tradisi dan kebudayaan nya, salah satunya adalah Lompat Batu

Lompat Batu

Lompat Batu yang sudah mendunia

Lompat batu yang dalam bahasa Nias disebut “Hombo Batu” atau “Fahombo” adalah tradisi yang dilakukan oleh laki laki dewasa dengan berlari dan melompati tumpukan batu setinggi 2 meter.

Yup Nias itu terkenal dengan Tradisi Lompat Batu nya, maka jangan heran ketika anda ketemu orang dan bilang berasal dari Nias, siap siap ditanya bisa Lompat Batu gak? Hehehe.

Catatan gue kali ini tentang perjalanan ke Desa Bawomataluo, desa dimana tradisi Lompat Batu berasal.

Nah untuk tradisi Lompat Batu sendiri itu hanya bisa kita jumpai di Nias bagian selatan dan tidak ada di wilayah Nias lain nya, ya karna itu tadi ada perbedaan budaya. Lompat batu ini biasanya dilakukan oleh para pemuda untuk menunjukkan pemuda tersebut sudah dewasa atau matang secara fisik.

Menurut sejarah, pada zaman dahulu sering terjadi perang antar kampung di daerah ini sehingga setiap kampung membangun benteng nya sendiri sendiri untuk mempertahankan  wilayah nya dan menjaga keselamatan warganya. Dan untuk menyerang sebuah kampung diperlukan kekuatan untuk melompati benteng di kampung  tersebut, nah dari sini kemudian mereka membuat tumpukan batu yang disusun rapi dan kuat untuk digunakan sebagai latihan fisik mereka dalam hal melompat.

Gimana nih lompat gak?😁

Walaupun di zaman sekarang sudah tidak ada lagi perang antar kampung, masyarakat masih mempertahakan tradisi ini sebagai bagian dari budaya. Dan kaum muda juga masih banyak yang tertarik melestarikan budaya ini. Semoga tidak sampai hilang ya kekayaan bangsa ini.

Untuk melihat atraksi Lompat Batu ini kita bisa datang ke Desa Bawomataluo atau Bukit Matahari, karna Desa ini berada di Perbukitan dengan pemandangan Matahari terbit  dan lautan luas. Bagus banget.

Desa Bawomataluo-Bukit Matahari

Rumah rumah di Desa Bawomataluo

Perjalanan kita ke Desa Bawomataluo di mulai dari Kota Gunungsitoli, dengan mengendarai sepeda motor waktu yang di tempuh sekitar 2 jam untuk sampai ke Telukdalam Ibukota dari Nias Selatan, oiya jangan khawatir bete di jalan ya karna sepanjang perjalanan kita akan disuguhi dengan pemandangan yang indah apalagi kalau bukan pemandangan laut dan pantai, Yup Nias itu adalah pantai dan pantai adalah Nias, dan buat lu yang takut item yah jangan maen eh pakai jacket maksudnya hehe.

Tangga menuju Desa Bawomataluo, hati hati ya

Destinasi pertama kita adalah Pantai Sorake, pantai ini terkenal dengan ombak nya yang tinggi dan para surfer dari berbagai negara sering surfing disini, di bulan bulan tertentu sering diadakan kompetisi surfing tingkat dunia disini, biasanya pertengahan tahun karna waktu itu ombak sedang tinggi tingginya wow, jadi jangan heran kalau bule  banyak yang surfing disini.

Pantai di Nias Selatan
Kalau takut hitam jangan main di pantai😁

Dari Pantai Sorake kita menuju Pantai Lagundri yang lokasinya tidak terlalu jauh. Hampir sama dengan pantai Sorake, pantai ini juga memiliki ombak yang tinggi dan jadi spot favorit para surfer dunia maupun lokal, jadi tinggal dipilih saja mau surfing di pantai Sorake atau pantai Lagundri, dua dua nya bagus, dua dua nya memiliki ombak yang tinggi, dan dua dua nya ciptaan Tuhan yang harus di Syukuri. Amin

Desa Bawomataluo lagi diguyur hujan, view dari Omo Sebua

Lanjut kita ke  Desa Bawomataluo kearah perbukitan, menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari kota Telukdalam akhirnya kita sampai juga dan motor kita parkir dirumah penduduk (tetap bayar ya, tapi aman kok), disini kita akan menaiki puluhan anak tangga untuk sampai ke Desa nya yang ada diatas, anak tangga nya lumayan banyak dan posisi nya curam jadi harus hati hati apalagi kalau habis hujan.

Sampai diatas kita disambut oleh pemandangan yang luar biasa, apa itu? Ya sebuah perkampungan yang luas, yang rumah rumah nya tersusun rapi dan bentuk nya hampir sama satu dengan yang lain yaitu berbentuk rumah panggung. Karna desa ini berada di ketinggian dengan menghadap kearah laut jadi setiap pagi dari desa ini kita bisa melihat fenomena Matahari terbit, oleh sebab itu Desa ini disebut Desa Bawomataluo atau Bukit Matahari . Pemandangan dari atas ini sungguh luar biasa kita bisa melihat hamparan laut luas, Amazing.

Omo Sebua

Omo Sebua atau Rumah Adat

Di tengah tengah kampung ada sebuah rumah adat yang besar yang berbeda dari rumah rumah sekitar nya, rumah ini di sebut “OMO SEBUA” yang merupakan rumah Raja, pengunjung boleh masuk tapi alas kaki dilepas ya, foto foto boleh tapi tetap menjaga kesopanan, menjaga kebersihan, jangan berisik dan jangan sembarangan memegang benda benda yang ada di dalam rumah.

Lanjut kita ke spot Lompat Batu yang ada di halaman depan Omo Sebua, wow tumpukan batu yang disusun rapi dan kuat yang tingginya sekitar 2 Meter dan batu inilah yang dilompati oleh pemuda pemuda di desa ini untuk membuktikan bahwa mereka telah dewasa. Luar biasa. Selain tradisi lompat batu di Desa ini juga ada tradisi Tari Perang dan Maena (Jenis tarian), dan tarian ini ditampilkan di acara acara adat atau penyambutan tamu.

Karna kesorean main kesini dan juga tadi sempat hujan jadi kita tidak bisa berlama lama disini, harus segera pulang biar tidak kemalaman di jalan.

Oiya untuk melihat atraksi Lompat Batu nya secara gratis hanya di acara acara tertentu saja seperti acara adat atau penyambutan tamu, tapi kalau mau melihat secara langsung saat itu juga maka anda bisa menghubungi para pemuda setempat dan mereka akan menunjukkan atraksi Lompat Batu, tentunya setelah ada kesepakatan harga ya hehe.

Dan sebelum pulang gue berfoto lagi dengan Batu yang menguji kedewasaan pemuda pemuda di desa ini.

Semoga gue dianggap sudah dewasa walaupun tidak lompat tapi cuma foto ^_^

Related posts

Melawan Rasa Takut Di Jembatan Cinta Pulau Tidung

Apriel Mendrofa

Tergiur Tiket Murah Ke Singapore

Apriel Mendrofa

Menjelajah Pulau Pari Di Kepulauan Seribu

Apriel Mendrofa

Leave a Comment