Catatan Perjalanan

Gereja Ayam, Gereja Di Tengah Hutan?

Stasiun Lempuyangan Yogyakarta pagi itu dipadati oleh para penumpang yang baru saja turun dari kereta api Progo. Kereta yang melayani rute Pasar Senen – Lempuyangan ini merupakan kereta favorit ketika berkunjung ke Yogjakarta, apalagi kalau bukan karna harga tiketnya yang murah meriah. Senang rasanya untuk kesekian kali bisa kembali ke kota yang terkenal dengan gudeg nya ini, I love Jogja

Keluar dari pintu stasiun gue sudah ditunggu oleh teman yang datang dari Malang beberapa jam sebelumnya, dia datang dengan motor sewaan yang akan menemani perjalanan kami beberapa hari kedepan. 

Trip kali ini kami akan berwisata ke daerah Magelang, ada beberapa tempat yang akan kami kunjungi disana salah satunya adalah “Gereja Ayam”.

Lokasi Gereja Ayam

Menyusuri jalanan kota Jogja sambil mengendarai motor membawa keseruan tersendiri. Walau sekedar numpang lewat saja tapi kerinduan akan kota Jogja sudah terobati. Jarak antara Jogja dan Magelang tidak terlalu jauh bisa ditempuh dalam waktu satu jam saja. Tidak usah takut nyasar karna jalur nya merupakan jalan provinsi dan juga jangan lupa andalkan GPS hehe.

Candi Mendut menyambut kedatangan kami di daerah Magelang, Candi ini berada di pinggir jalan sehingga sayang rasanya jika tidak mampir sekedar berwisata sejarah. Dan karna hari itu hari jumat maka teman gue sekalian menunaikan ibadah Sholat Jumat di Masjid yang berada tidak jauh dari Candi Mendut. Dan gue jadi punya waktu lebih lama menikmati Candi sambil beristirahat di bawah pohon beringin yang ada di komplek Candi Mendut.

Mendengar namanya saja pasti sudah bikin penasaran, lalu seperti apakah penampakan bangunan yang ada ditengah hutan ini?

Ketika matahari sudah tidak terik lagi, kami bergegas meninggalkan penginapan yang tak jauh dari Candi Borobudur  menuju Gereja Ayam

Gereja ayam ini berada sekitar 4.5 km dari Candi Borobudur, tepatnya di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang – Jawa Tengah. Selain Candi Borobudur tempat wisata terdekat dari sini adalah Punthuk Setumbu.

Kondisi jalan yang kami tempuh menuju lokasi sangat mulus, lancar bahkan sedikit lengang dengan suasana masih sejuk khas pedesaan. Kami tetap menggunakan GPS walaupun ada beberapa penunjuk jalan yang mengarahkan ke lokasi Gereja Ayam

Dari jalan besar kami belok kekanan mulai masuk jalan kecil menanjak, sebenarnya ada beberapa jalur yang bisa ditempuh menuju lokasi Gereja Ayam dan kami melewati jalan kecil dipemukiman warga. Sedangkan untuk jalur resmi / jalan besar yang bisa dilewati oleh kendaran roda empat akan kami lalui ketika turun nanti.  

Kamipun sampai di tempat parkir setelah berkendara selama 15 menit dari penginapan. Tempat parkir nya cukup luas untuk menampung kendaraan roda dua dan roda empat, sedangkan untuk kendaraan besar seperti bis harus parkir dibawah.  

Dari tempat parkir pengunjung bisa memilih untuk terus berjalan kaki sekitar 100 meter atau menggunakan jeep dengan tarif Rp. 7.000 sekali jalan. Kami pun memutuskan untuk berjalan saja, harus diakui karna berada diketinggian maka jalurnya pun menanjak. 

Gereja ayam bisa dibilang berada ditengah hutan karna sekeliling nya dikelingi oleh pepohonan tinggi, berada diketinggian dan jauh dari pemukiman warga. Dan jika dilihat dari udara akan terlihat seperti unggas raksasa yang berada di tengah hutan. 

Sejarah Dari Gereja Ayam Bukit Rhema

Dialah Daniel Alamsyah, pendiri dan pemilik bangunan yang dibangun pada tahun 1992 ini, visinya menjadikan tempat ini menjadi rumah doa bagi segala bangsa dan agama. Dia memberi nama bangunannya dengan nama Bukit Rhema atau Rumah Doa. Tapi warga setempat menyebutnya Gereja Ayam, karna jika dilihat sekilas menyerupai ayam. Perlu diketahui tempat ini bukan sebuah gereja buat umat kristiani tapi sekali lagi adalah rumah doa bagi segala bangsa.

Konsep awal dari bangunan ini adalah menggambarkan burung merpati yang merupakan simbol perdamaian dan diatas kepala burung terdapat mahkota. Tapi karna terkendala dana maka pembangunan nya sempat terhenti dan terbengkalai dalam waktu lama menyebabkan Gereja Ayam menjadi bangunan misterius ditengah hutan. Tapi bersyukur beberapa waktu kemudian kembali direnovasi dan jadi tempat wisata seperti sekarang ini

                             Burung merpati besar ditengah hutan/Bukitrhema.com

Kami melangkahkan kaki masuk kedalam, setelah pengecekan tiket dipintu masuk setiap pengunjung akan mendapat penjelasan singkat tentang tempat ini dari petugas, penjelasan singkat dan sangat cepat bahkan kamipun hanya bisa mengangguk ngangguk saja hehe. Para pengunjung dipersilahkan untuk memulai kunjungan dari tingkat bawah terlebih dahulu. 

                                                  mirip ayam atau merpati?

Bagian dasar bangunan, ruang berdoa

Dalam Gereja Ayam dapat pengunjung dapat menemukan toko souvenir, tempat menggantung doa yang ditulis dalam secarik kertas, koleksi lukisan, dan ruang berdoa buat mereka yang ingin berdoa sesuai kepercayaan nya masing masing. Buat pengunjung yang butuh istirahat maka terdapat sebuah kantin yang menyajikan berbagai makanan dan minuman. Menikmati hidangan sambil menikmati alam rasanya sungguh nikmat.

Ruang bawah bangunan/bukitrheama.com

Koleksi lukisan

bukitrhema.com

bukitrhema.com

Gereja ayam atau Bukit Rhema ini memiliki beberapa tingkatan ; tingkat paling bawah merupakan ruang ruang doa untuk berbagai agama. Dan tingkat paling atas adalah kepala dari burung merpati yang memakai mahkota. Untuk naik keatas ini harus melewati tangga yang sangat kecil dan curam, jadi harus berhati hati sekali. 

Dan untuk kondisi di puncaknya sendiri tidak terlalu luas sehingga tidak bisa menampung banyak orang, jadi harus bergantian untuk bisa mendapatkan foto terbaik diatas kepala burung merpati. Jadi bisa dibayangkan ketika pengunjung lagi ramai ramainya pasti antrian ke puncak sangat panjang. Jadi ada baiknya menghindari akhir minggu atau libur panjang supaya dapat liburan yang menyenangkan. 

Jika siang atau sore hari keadaan diatas kepala burung merpati ini sangat terik sekali dan juga menyilaukan pemandangan jadi jangan lupa membawa pelindung kepala atau topi dan juga kacamata.

Pengunjung akan disuguhkan dengan hamparan pegunungan seperti Merapi dan Merbabu serta candi Borobudur yang terlihat kecil. Dan jangan terlalu lama berada diatas, supaya bisa bergantian dengan pengunjung lain juga 

Jam Buka Dan Harga Tiket

Sejak menjadi lokasi syuting film Ada Ada Dengan Cinta (AADC 2) dan kemudian viral di sosial media maka animo masyarakat untuk berkunjung ke tempat ini makin tinggi. Jadi bisa dipastikan Gereja Ayam akan selalu ramai di akhir minggu dan libur panjang. Pengunjung nya bukan hanya berasal dari Magelang dan sekitarnya saja bahkan dari kota kota besar di Indonesia pun penasaran dengan Gereja Ayam yang berada di hutan ini.

Gereja Ayam jadi salah satu alternativ tempat untuk menyaksikan sunrise maka tidak heran jika menjadi incaran para pemburu foto dan pecinta travelling.  

Harga tiket masuk : Rp. 20.000/orang, tiket bisa ditukar dikantin dengan cemilan tradisional berupa singkong goreng yang gurih.

Jam buka,  Senin – Jumat : 06.00 – 16.30,  Sabtu – Minggu : 05.00 – 16.30
Fasilitas yang tersedia di Gereja Ayam atau Bukit Rhema sudah lumayan lengkap, seperti : Jeep antar jemput (Parkiran – Bukit Rhema), area parkir yang luas, toilet, kantin, toko souvenir, ruang berdoa dan guide. 

Selain berwisata alam pengunjung juga bisa belajar tentang kerukunan beragama di tempat ini. Semoga bangsa Indonesia yang kaya akan perbedaan, beragam suku budaya selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta hidup dalam kerukunan tanpa mempersoalkan perbedaan terutama soal AGAMA.

Related posts

Mau Menyaksikan Pertunjukan Budaya? Kunjungilah Keraton Yogyakarta

Apriel Mendrofa

Pendakian Gunung Lembu 792 Mdpl ; Kecil-kecil tapi Menantang #2

Apriel Mendrofa

Jalan Jalan Di Kota Lumpia Semarang

Apriel Mendrofa

Leave a Comment

You cannot copy content of this page